Kamis, 22 Desember 2011

Karya Tulis Ilmiah


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bahasa adalah sistem lambang yang berwujud bunyi.Lambang adalah suatu pengertian .Lambang-lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa, kalimatdan wacana.Semua itu mempunyai makna.
Sebagai alat komunikasi verbal bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbiter. Maksudnya, tidak berhubungan wajib antara lambang sebagai  hal yang menandai yang berwujud kata atau leksem dengan benda atau konsep yang ditandai,  yaitu referen dari kata atau leksem tersebut. Oleh karna itu, misalnya kita dapat menjelaskan mengapa binatang buas yang biasa di piara di rumah dan seperti harimau dalam ukuran kecil disebut dalam bahasa Indonesia.
Kearbiteran lambang bahasa seperti di atas menyebapkan orang, dalam sejarah linguistik, agak menelantarkan peneletian mengenai makna bila dibandingkan dengan penelitian di bidang morfologi dan sintaksis. Makna sebagai objek studi semantik, sangat tidak jelas strukturnya jelas sehingga mudah dianalisis. Aliran linguistik struktural yang menganut paham behaviorisme setiap data keilmuan harus bisa diamati secara empiris, malah berpandangan bahwa semantic (makna) bukan merupakan bagian sentral melainkan periferal dari bahasa ( Hockett 1958).
Namun, sejak tahun enam puluhan studi mengenai makna ini menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari studi linguistik lainnya. Mengapa ? Karena orang mulai menyadari bahwa kegiatan berbahasa sesungguhnya adalah kegiatan mengekpresikan lambang-lambang bahasa tersebut untuk menyampaikan makna-makna yang ada pada lambang tersebut, kepada lawan bicaranya (dalam komunikasi lisan) atau pembacanya (dalam komunnikasi tulis). Jadi, pengetahuan akan adanya hubungan antara lambang atau satuan bahasa, dengan maknanya sangat diperlukan dalam berkomunikasi dengan bahasa itu.



















1.1  LATAR BELAKANG MASALAH
Semantik merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu kebahasaan. Bahasa indonesia sebagai Semantik merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji makna. Dari segi sejarah ilmu semantik (barat), semantik merupakan satu cabang kajian falsafah yang kemudiannya diangkat oleh disiplin linguistik sebagai salah satu daripada komponen bahasa yang utama selain sintaksis, morfologi dan fonologi. Ada yang merasakan bahawa kajian semantik seharusnya menjadi fokus utama dalam linguistik kerana peranan utama bahasa adalah untuk mengungkapkan sesuatu yang bermakna. Dalam ilmu linguistik, terdapat beberapa pendekatan dalam kajian semantik seperti semantik struktural, semantik berasaskan kebenaran, semantik formal dan juga semantik kognitif.
Setiap pendekatan mempunyai beberapa teori. Secara umumnya, semantik struktural mengkaji makna sebagai satu sistem dalaman bahasa. Semantik bersyaratkan kebenaran (truth-conditional semantics) mengaitkan makna dengan satu kebenaran sesuatu proposisi Semantik berasaskan kebenaran sering dikaitkan dengan semantik formal yang mengambil pendekatan menghuraikan makna secara formal dan logikal dengan menggunakan perlambangan operasi matematikal.









1.2 TUJUAN PENULISAN
1. Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah menulis yang diberikan oleh Dosen
2. Sebagai calon pendidik yang perofesional kita di harapkan megetahui terlebih dahulu tentang seluk beluk bahasa Indonesia. Dan pembagian-pembagiannya.
3. Agar lebih mendalami dan mengetahui tentang semantik
4. Untuk melatih kita dalam penulisan karya ilmiah
 5. Untuk memotivasi guru atau calon pendidik terutama jurusan Bahasa Indonesia untuk lebih memahami perkembangan bahasa agar menjadi guru yang profesional dan handal.
6. Untuk mengetahui dan memahami pengertian semantik.
7.      Didalam ruang lingkup kampus Universitas Islam Riau umumnya dan pada jurusan Bahasa Indonesia khususnya, penulis juga sangat mengharapkan bahasa indonesia adalah bahasa yang harus di gunakan oleh mahasiswa program study Bahasa Indonesia agar Bahasa Indonesia ini tidak selalu diremehkan.









1.3 RUANG LINGKUP
Bahasa merupakan media komunikasi yang paling efektif yang dipergunakan oleh manusia untuk berinteraksi dengan individu lainnya. Bahasa yang digunakan dalam berinteraksi pada keseharian kita sangat bervariasi bentuknya, baik dilihat dari fungsi maupun bentuknya. Tataran penggunaan bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat dalam berinteraksi tentunya tidak lepas dari penggunaan kata atau kalimat yang bermuara pada makna, yang merupakan ruang lingkup dari semantik.
Dalam berbagai kepustakaan linguistik, semantik disebutkan sebagai bidang studi linguistik, semantik disebutkan sebagai bidang studi linguistik yang objek penelitiannya adalah makna bahasa. Status tataran semantik tidak sama dengan status tataran fonologi, morfologi, dan tataran sintaksis, sebab secara hirarki satuan-satuan bahasa saling bangun membangun, wacana di bangun oleh kalimat, satuan kalimat dibangun oleh klausa, satuan klausa dibangun oleh frasa, satuan frasa di bangun oleh kata, satuan kata dibangun oleh morfem, satuan morfem dibangun oleh fonem, serta satuan fonem dibangun oleh fon atau bunyi. Semantik dengan objeknya makna, berada pada semua tataran fonologi, morfologi dan sintaksis.      







1.4 KERANGKA TEORI
Beberapa Teori tentang Semantik dan Menurut Para Ahli :
Sudah banayk teori tentang semantic yang diperkenalkan para ahli. Dalam wawasan filsafat ada di sebut semantik filosofi, dan dibedakan teori naturalism, dan dan nominalisme. Pendekatan filosofi terhadap makana biasanya dihubungkan dengan asal-usul simbol verbal dan kebermaknaannya berdasarkan kebenaran dan kesesuaian logis. Sebaliknya semantic linguistic menekuni arti lebih berdasarkan pada hubungan antara tingkah laku ujaran dengan lingkungan fisik dan intelektual si pembicara.
Beberapa linguis menekankan hubungan yang erat sekali anatar struktur dalam bahasa dengan pembicara mendasarkan penyimpulan alam sekitarnya kepada struktur dalam itu. Ada pula yang menerangkan apakah itu hubungan ujaran dengan situasi dan kejadian alam sekeliling yang tak terhingga adanya . Karena dengan demikian, ada yang membebaskan studi semantik dari analisis formalnay. Namun sungguh tidak mungkin membahas ujaran sebagai bagian dari analisis linguistic. Terus terang saja semantic ini cabang linguistic yang paling tertinggal bila di bandingkan dengan cabang lainnya. Ini mudah di mengerti, karena dalam membicarakan makna banayak sekali persoalan yang sulit untuk di pecahkan. Kebanyakan linguis tidak menyelidiki bagaimana kata-kata itu tumbuh dalam pikiran. Mereka lebih meminati bagaimana gagasan-gagasan itu diungkapakan dalam wujud kombinasi kata.
Untuk menghadapi kesulitan ini telah disusunlah berbagi teori antara lain :
(a). Conceptual Theory
Menurut teori ini makna adalah mental image si pembicara dari subjek yang di bicarakan.
(b). Reference atau Correspondence Theory
Menurut teori ini, Makna adalah hubungan langsung antara makna dan simbo-simbol acuannya.
(c). Contextual Theory
Teori ini berusaha menerangkan makna kata-kata dengan perantaraan sanding kata( Colloction) yang bisa di temukan. Sebagai contoh kata tentara. Kata ini di jelaskan dengan perantaraan sanding kata yang umum di pakai atau berkaitan dengan kata tentara itu. Seperti perang, dan lain-lain dengan kata ini kosa kata tentara memang lebih erat dibandingkan dengan kosa kata seperti rujak cuka. Dan sebangsanya contoh ini membentuk yang di sebut colocational sets atau perangkat sanding kata. Kesulitan dalam teori ini adalah tidak sistematik mengenai data. Dengan demikian collacation ini di rasa tidak merupakan jajahan linguistic. Tetapi lebih cocok dijelajahi para ahli psikologi dan retorika.
(d). Field Theory
Teori ini menafsirkan kaitan makna antra kata atau anggota-anggota  dalam kesatuan bidang semantik tertntu.
(e). Componetional Analysis Theory
Teori ini mempelajari bagaimana seperangkat kata atau istilah terbentuk dari ciri-ciri semantic umum. Atau dengan kata lain menganalisis seperangkat kat-kata yang berhubungan ke dalam komponen laki-laki, ayah, dan sebagainya. Dengan analisis ini kita dapat mempelajari bagaimana para penutur bahasa menggunakan seperangkat kosakata untuk mengklasifikasikan obyek dengan mengacu kepada parameter tertentu dari makna.
(f). Combinational Semantics atau semotatias
            Teori ini menyelidiki arti leksis dari butir kata juga penyusunan sintaksisnya.
(g). Generative Semantics
         Teori ini mencoba menyimpulkan makna-makna dari kalimat dan lalu mentransformasikan makna – makna ini ke dalam ujaran / klimat nyata ( performance ).
         Pandangan yang bermacam-macam dari para ahli mejadikan para ahli memiliki perbedaan dalam mengartikan semantik. Pengertian semantik yang berbeda-beda tersebut justru diharapkan dapat mngembangkan disiplin ilmu linguistik yang amat luas cakupannya.
1. Charles Morrist
Mengemukakan bahwa semantik menelaah “hubungan-hubungan tanda-tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut”.
2. J.W.M Verhaar; 1981:9
Mengemukakan bahwa semantik (inggris: semantics) berarti teori makna atau teori arti, yakni cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti.
3. Lehrer; 1974: 1
Semantik adalah studi tentang makna. Bagi Lehrer, semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas, karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat dan antropologi.
4. Kambartel (dalam Bauerk, 1979: 195)
Semantik mengasumsikan bahwa bahasa terdiri dari struktur yang menampakan makna apabila dihubungkan dengan objek dalam pengalaman dunia manusia.
5. Ensiklopedia britanika (Encyclopedia Britanica, vol.20, 1996: 313)
Semantik adalah studi tentang hubungan antara suatu pembeda linguistik dengan hubungan proses mental atau simbol dalam aktifitas bicara.
6. Dr. Mansoer pateda
Semantik adalah sub disiplin linguistik yang membicarakan makna.
7. Drs. Abdul Chaer ( 2002:2)”
Semantik adalah ilmu tentang makna atau arti. Yaitu tataran dari tiga tataran analisis bahasa : fonologi, gramatik, dan semantik
8. Drs. Guntur Tarigan (2009:7)
Semantik adalah telaah makna. Semantik menelaah makna lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna.
9. Parera ( 1994:14 )
Semantik adalah suatu studi dan analisis tentang makna-makna linguistik.







1.5  PEMBAHASAN
Pengertian Semantik
Chaer (2002:2). Kata Semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris : semantic) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti “ tanda atau “ lambang “. Kata kerjanya adalah semaino yang berarti “ menadai “ atau “ melambangkan “. Yang di malsud dengan tanda atau lambang di sini sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistic (Prancis : signe linguistique) seperti dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure ( 1996), yaitu yang terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bunyi bentuk-bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen yang di artikan atau makna dari komponen yang pertama itu. Kedua komponen ini adalah merupakan tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambanginya adalah sesuatu yang berada di luar bahasa yang lazim disebut referen atau hal yang di tunjuk.
Chaer (2002:2) “Kata semantik ini kemudian disepakati sebagai istilah yang di gunakan untuk untuk bidang linguistic dengan hal-hal yang di tandinya. Atau dengan kata lain, bidang studi dalam linguistic yang mempelajari makkna atau arti dalam bahasa. Oleh karna itu, kata semantic dapat di artikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisa bahasa : fonologi, gramatik, dan semantic.
Sejalan dengan itu Tarigan (2009:7) “Semantik adalah telaah makna” Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna. Hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat, karena itu semantic mencakup makna-makna kata. Perkembangan dan perubahannya.
Parera (1994:14) “ Semantik adalah suatu studi dan analisis tentang makna-makna linguistik” Menurut Tarigan (2009:2) “Semantik adalah telaah mengenai makna” Semantik menelaah hubungan-hubungan, tanda-tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut,,
Chomsky (1965) Mengemukakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa ( Dua komponaen lain adalah fomologi dan sintaksis), dan makkna kalimat sangat ditentukan oleh komponen semantik ini.
1.5.1        Klasifikasi Semantik
Bahasa di gunakan untuk berbagai keperluan dan kegiatan dalam kehidupan dan masyarakat, Maka makna bahasa itu pun menjadi bermacam-macam pula bila di lihat dari segi pandang yang berbeda. Adapun jenis-jenis makna yang dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain.
1. Makna Leksikal, Gramatikal Dan Kontesktual
            Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tampa konteks apa pun. Misalnya leksem air bermakna leksikal “ sejenis barang cair yang biasa di gunakan untuk keperluan sehari-hari. Dengan kata lain, makna adalah makna yang sesuai dengan hasil observasi manusia, atau makna apa adanya ( makna yang ada dalam kamus).
            Makna gramatikal akan ada jika terjadi proses gramatikal( afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi). Misalnya dalam proses afiksasi. Sepat melahirkan makna gramatikal ”mengenakan atau “memakai sepatu”.
            Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada dalam satu konteks. Misalnya makna kata pergi “dalam kata adik pergi kesekolah”. Makna konteks juga berkenaan dengan situasinnya, yakni waktu dan lingkungan penggunaan bahasa.
2.   Makna Referensial an Non-Referensial
            Sebuah kata atau leksem di sebut bermakna referensial jika ada referensinya, atau acuannya. Kata-kata seperti ayam, hijau, dan gambar. Adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam kehidupan nyata. Berbeda halnya dengan kata-kata dan, dengan dan Karena merupakan kata-kata yang tidak bermakna referensial karena kata-kataini tidak memiliki referensi.
3.   Makna Denotatif dan Makna Konotatif
            Makna denotatife merupakan makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya dimiliki oleh sebuah kata leksem. Misalnya, kta sapi bermakna denotative “sejenis binatang yang di pelihara untuk dimanfaatkan”.
            Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan”pada makna denotative yang berhubunga dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Misalnya, kata babi, bagi orang Islam atau masyarakat Isalam mempunyai konotasi negatife ada rasa atau perasaan tidak enak mendengar kata babi itu.
            Berkenaan dengan masalah konotasi ini harus diingat bahwa konotasi sebuah kata berbeda antara seseorang dengan orang lain, atau satu daerah dengan daerah lain, atau antara masa dengan masa yang lain.
4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Leech (1976) Mengemukakan bahwa makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Misalnya kata rumah memiliki makna konseptual”bangunan tempat tinggal manusia”. Pada dasarnya makna konseptual sama denagn makna leksikal, makna denotative, dan makna referensial.
            Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang ada diluar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesician. Makna asosiatif sebenarnya sama dengan lambang atau perlambangan yang digunakan oleh masyarakat bahasa untuk menyatakan kosep lain, yang mempunyai kemiripan dengan sifat.keadaanatau ciri yang ada konsep asal kata atau leksem tersebut. Oleh Leech (1976) makna asosiatif ini mencakup makna konotatif, makna stilistika, makna afektif, dan makna kolokatif.
5. Makna Kata dan Makna Istilah
            Penggunaan kata akan menjadi jelas jika kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya atau situasinya. Kita be,um tahu makna kata pergi sebelum kata itu berada dalam konteksnya (adik pergi kesekolah). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa makna kata masih bersifat umum, kasar, dan tidak jelas.
            Istilah mempunyai makan pasti, yang jelas, dan tidak meragukan, meskipun tampa konteks kalimat. Oleh sebab itu , makna istilah bebas konteks. Sebuah istilah digunakan dalam bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Misalnya kata tangan dan lengan. Dalam bidang kedokteran kedua kata ini mempunyai makna yang berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai kejari tangan, sedangkan lengan adalh bagian dari pergelangan sampai ke bahu.
6.   Makna Idiom dan Peribahasa
            Idioam adalah satuan ujaran yang maknanya tidak”diramalkan” dari makna unsure-unsurnya, naik secara leksikal maupun secara gramatikal. Misalnya secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna”yang menjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya”.
            Pada umumnya ada dua macam idiom, yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsure-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Misalnya membanting tulang, unjuk gigi, dan meja hijau. Idiom sebagian adalah idiom yang sa;ah satu  unsurnya masih meiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya, daftar hitamyang bermakna “ daftar yang memuat nama-nama orang yanga berbuat atau di curigai berbbuat kejahatan”. Kata contoh tersebut memiliki makna leksikalnya.
            Peribahasa memiliki makna yang masih dapat di telusuri dari makna unsure-unsurnya. Karena adanay asosiasi anatara makana asli dengan makna sebagi pribahasa. Misalnya, ‘ sseperti ‘ anjing denagn kucinng” yang bermakna “ dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jka bersua memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.
            Idiom pribahasa terdapat pada semua bahasa yang ada di dunia ini, terutama pada bahasa yang penuturnya memiliki kebudayaan tinggi.
1.5.2        Relasi Semantik
            Dalam suatu bahasa, makna kata saling berhubungan, hubungan ini disebut relasi makna. Relasi makna dapat berwujud bermacam-macam, anatara lain.
1.      Homonimi
            Yaitu relasi makna antar kata yang ditulis sama atau dilafalkan sama, tetapi makannya berbeda. Kata-kata yang ditulis sama tetapi berbeda makana disebut homografi. Sedangkan kata-kata yang dilafalkan sama tetapi berbeda makna disebut homofon. Misalnya homograf kata tahu (makanan) yang berhomografi dengan kata tahu (paham). Sedangkan kata yang homofon kata masa (waktu) berhomografi dengan massa (jumlah besar yang menjadi satu kesatuan).
2.      Polisemi
            Polisemi berkaitan dengan kata atau frase yang memiliki beberapa makna yang berhubungan. Hubungan antar makna ini disebut polisemi. Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi jika kata utu mempunyai makna lebih dari satu. Misalnya, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna (a) bagian tubuh manusia, (b) ketua atau pemimpin, (c) sesuatu yang berbentuk bulat, (d) seuatu berbeda pada sebelah atas.
3.      Sinomini
            Adalah relasi makna antar kata (frase atau lalimat) yang maknanya satu atau mirip. Dalam suatu bahasa jarang ditemukan dua kata yang  bersinimini mutlak. Misalnya, anata kata betul dan kata benar, anatara kata hamil denagan frase “duduk perut” dan antara kalimat adik menendang bola dengan bola ditendang adik.
            Ada beberapa hal yang menyebapkan munculnya kata-kata bersinomini , seperti kata-kata yang berasal dari bahsa daerah, bahasa nasional dan bahasa asing, misalnya penyakit kencing manis dengan diabetes, telpon genggam dengan handphone.
            Sinonim dapat muncul antar kata (frasa atau kalimat) yang berbeda ragam bahasanya, seperti bini (ragam bahasa percakapan secara tidak resmi) dengan istri (ragam resmi). Kata-kata yang mendapat nilai rasa (Konotasi) yang berbeda juga dapat besinomini, seperti partai guram (Perasaan negatife) dengan partai kecil (perasaan netral).
4. Antonimi atau Oposisi
            Antonimi atau oposisi merupakan relasi antar kata yang bertentangan atau berkebalikan makananya. Istilah antonimi digunakan untuk oposisis makna dalam pasangan leksikal bertaraf, seperti panas dengan dingin karena masih ada kata-kata lain, seperti hangat, dan suam-suam kuku.
            Oposisi makna dalam pasangan leksikal tidak bertaraf yang maknanya bertentangan disebut oposisi komplementer, seperti jantan dan betina. Dengan demikian, jika saya mengatakann “Pusu seekor kucing jantan, itu berarti Pusu bukan kucing betina.
            Relasi antar kata ada juga yang maknanya berkelebihan, seperti maknnya berkebalikan, seperti kata suami dengan kata istri “Jika tini istri Tono, Berarti tono suami tina.
5. Hipomini
            Merupakan hubungan semantik antara bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam bentuk ujaran yang lain. Misalnya, kata merpati dan kata burung. Makna merpati tercakup dalam makna kata burung. Merpati adalah burung, tetapi burung tidak hanya merpati.
             Hipomini adalah relasi makna yang berkaitan dengan peliputan makna spesifik dalam makna generic, seperti makna anggrek dalam makna bunga, makna kucing dalam makna biantang, sedangkan kucing, anjing, kambing, dan kuda berhipomini dengan binatang.
6. Metomini
            Adalah relasi makna yang memiliki kemiripan dengan hipomini, karena relasi maknanya bersifat hierarkis, namun tidak menyiratkan dengan relasi yang searah, tetapi relasi makna bagian dengan keseluruhan. Misalnya, atap bermeronimi dengan rumah. Meronini dapat dianalisis dengan bantuan X dalam bagian dari Y.
Disamping itu, kata juga memiliki makna yang berkaitan langsung dengan unsur-unsur di luar bahsa, seperti objek tertentu, situasi percakapan, dan sejarah bahasa. Blanke (1973) menyebut makna ini sebagai makna ekstralingual.

7. Makna Asosiatif
            Merupakan asosiasi yang muncul dalam bentuk seseorang jika mendengar kata tertentu. Asosiasi ini dipengaruhi oleh unsure-unsur psikis, pengetahuan dan pengalaman seseorang. Oleh sebab itu makna asosiatif terutama dikaji bidang psikolinguistik.
            Dalam stu masyarakat bahasa terdapat banyak persamaan makna asosiatif karena pengalaman, Lingkungan, dan latar belakang budaya yang hamper sama. Makna asosiatif berperan penting dalam penyusunan teks iklan, karena bukan hanya makna referensial yang harus ditonjolkan tetapi juga asosiasi yang muncul dalam benak seseorang jika membaca kata-kata yang ada dalam iklan harus dipertimbangkan.
            Maka asosiatif juga memiliki peran penting untuk pemahaman wacana karena makna asosiatif dapat menjadi pengikat makna-makna kata sehingga terbentuk suatu pemahaman wacana. Interpretasi puisi tidak dapat dipisahkan dari makna asosiatif kata-kata yang ada dalam puisi, karena mengenal makna asosiatif akan memudahkan interpretasi puisi.
8. Makna Afektif
            Makna afektif berkaitan dengan perasaan seseorang jika mendengar atau membaca kata tertentu. Perasaan yang muncul dapat positif atau negative. Kata jujur, rendah hati, dan bijaksana menimbulkan makna afektif yang positif sedangkan makna korupsi dan kolusi menimbulkan makna afektif yang negatife.
            Nilai Rasa terhadap kata, atau lazim disebut konotasi, ditentukan oleh makna asosiatif dan makna afektif yang ditimbulkan kata tersebut bagi seseorang. Seperti makna asosiatif, makna afektif yang ditimbulkan tersebut bagi seseorang penyusun teks iklan dan kampanye politik. Misalnya, dalam teks iklan tertera kalimat “the nikmat berkhasiat”. Kata nikmat dan berkhasiat memiliki nilai rasa yang positif, karena kata nikmat dan berkhasiat menimbulkan asosiasi dan perasaan positif.

9. Makna Situatif
            Kata-kata yang mempunyai diektis – “Pragmatik” – seperti pronominal pesona (saya, kamu anda). Pronomina petunjuk (ini, itu), Nomina yang merupakan keterangan waktu (lusa, minggu depan) dan keterangan tempat (disini, disana, disitu), makna referensialnya terkait dengan situasi pembicaraan. Perbedaan makna referensial ini dan itu atau di sana dan di situ bergantung pada konteks pembicaraan sehingga kata-kata yang memiliki fungsi deikstis terikat dengan makna situatif.
10.  Makna etimologis
            Makna etimilogis berkaitan dengan asal usul kata dan perubahan makna kta dilihat dari aspek sejarah kata. Makna etimologis suatu kata mencerminkan perubahan kata yang terjadi dengan kata tertentu. Melalui perubahan makna kata, dapat ditelusuri perubahan nilai, norma, keadaan sosial politi, dan keadaan ekonomi suatu masyarakat.
            Perubahan makna kta dapat meluas atau menyempit, Misalnya, kata sarjana yang dalam bahasa sansakerta bermakna “orang-orang yang cakap, cerdik cendikia”. Kini dalam bahasa Indonesia maknanya menyempit menjadi “gelar strata satu yang dicapai oleh seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat akhir di perguruan tinggi.
            Nilai makna suatu kata juga dapat berubah dari negatife menjadi positif yang disebut ameliorasi, atau sebaliknya dari positif menjadi negative (penyorasi0. Misalnya, kata perempuan yang semula bermakna” tempat berguru”. Berubah menjadi negatife karena sering dikaitkan dengan wanita tunasila (mengalami penyorasi). Dewasa inni kata perempuan kembali bermakna positif (ameliorasi) karena sering dimunculkan dalam kajian gender dan kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki.

1.5.3     Analisis Makna
            Pengetahuan dan pengalaman manusia sebagai sumber informasi disimpan dalam otak sebagai kesatuan mental yang disebut konsep. Makna dipengaruhi oleh konsep dan secara tidak langsung dipengaruhi oleh objeknya.
            Makna merupakan kesatuan pengetahuan dan pengalaman yang terkait dengan lambang bahasa yang mewakilinya. Makna terdiri dari komponen makna. Misalnya makna kata wanita terrbentuk dari komponen makna manusia, dewasa, perempuan. Bagaimanakah cara menganalisis makna suatu leksem.
            Komponen makna tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan dan pengalaman serta situasi seseorang. Melalui kerangka kalimat “ X………….. tetapi bukanlah/tidak………” dapat ditentukan komponen makna suatu kata. Misalnya, Untuk mencari komponen makna kata wanita dapat dilakukan tes substansi sebagai berikut : X seorang wanita tetapi bukan/tidak…….
v  Manusia
v  (orang dewasa canti)
v  Langsing
v  Perempuan
            X seorang wanita, tetapi bukan*manusia, bukan (orang) dewasa dan bukan*perempuan tidak berterima secara sistematis. Dan itu berarti komponen makna kata wanita. X seorang wanita tetapi tidak cantik dan X seorang wanita tidak langsing tetapi tidak cantik dan X seorang wanita tetapi tidak langsing berterima secara sistematis. Dan itu berarti komponen makna cantik dan langsing tidak merupakan komponen pada wanita.
      `                 Analisa makna selain dilakukan dengan bantuan analisis komponen dapat juga dilakukan melalui protife. Menurut pendekatan ini, makna kata tidak dapat diuraikan dalam bentuk komponen semantic karena makna kata batasnya kabur dan keanggotaan dalam satu kategori tidak ditentukan oleh ada tidaknya komponen-komponen semantic tertentu, tetapi tergantung pada jarak prototife.
            Prototife adalah “ referensi mental mewakili contoh terbaik suatu konsep tertentu” Misalnya, konsep mobil mewakili mobil sedan yang merupakan prototife konsep mibil. Untuk menentukan apakah suatu kata masih termasuk kategori mobil atau tidak. Kata itu tidak harus dibandingkan dengan prototife mobil. Misalnya, bus secara pasti dapat dimasukkan dalam kategori mobil, tetapi bajai lebih sulit dimasukkan dalam ketegori mobil, karena jarak bajai dengan mobil sedan lebih jauh dari bus dengan mobil sedan yang memiliki lebih banyak persamaan.
            Analisis makna dengan bantuan prototife memungkinkan penyusunan kosakata yang termasuk dalam satu medan makna berasal dari ranah tertentu. Pembentukan prototife dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya dan lingkungan suatu masyarakat bahsa, misalnya prototife ranah buah-buahan dalam masyarakat Indonesia adalah pisang, sedangkan masyarakat bahasa yang tinggal di Eropa adalah apel.








1.6 HASIL PENULISAN
Dari hasil penulisan saya tampak di sini bahwa bahasa tidak saja diperlukan oleh manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lain, melainkan bahasa diperlukan juga oleh manusia untuk berkomunikasi dengan mesin. Bahkan lebih dari itu. Di dalam banyak hal, kita mulai menemukan mesin yang berkomunikasi dengan mesin lain melalui bahasa. Kita juga mulai menemukan mesin yang berkomunikasi dengan manusia melalui bahasa. Dengan demikian, bahasa juga diperlukan oleh mesin untuk berkomunikasi dengan mesin lain dan dengan manusia.
Kita sebagai mahasiswa program studi Bahasa Indonesia dan calon guru sangat di harapkan sekali untuk mempelajari dan mengetahui tentang semantik, karna semantik disini sangat behubungan dengan bahasa. Dan mepelajari tentang makna bahasa. Dan para ahli juga mengemukakan pengertian semantik yang berbeda-beda tapi intinya tetap sama. Sifat kemajemukan bahasa sering menimbulkan kekacauan semantik, misalnya dua oarng sedang berkomunikasi menggunakan kata yang sama untuk pengertian yang berbeda, atau sebaliknya.
Jadi dari berbagai para ahli tadi dapat di tarik kesimpulan bahwa semantik  sebagai ilmu, memelajari pemaknaan dalam bahasa dan terbatas pada pengalaman manusia. Jadi, secara ontologism semantik membatasi masalah pada pengalaman yang dikajinya hanya pada persoalan yang terdapat didalam ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia. Selain itu semantik membicarakan apa yang ditandai.




PENUTUP
a.   Simpulan
Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada setiap perkataan yang diucapkan. Semantik merupakan salah satu cabang ilmu yang dipelajari dalam studi linguistik. Dalam semantik kita mengenal yang disebut klasifikasi makna, relasi makna, erubahan makna, analisis makna, dan makna pemakaian bahasa. Semantik adalah subdisiplin linguistik yang membicarakan makna yaitu makna kata dan makna kalimat.
 Semantik diartikan sebagai ilmu tentang makna atau arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa, yakni: fonologi, gramatika, dan semantik. Semantik hanyalah mengkaji makna atau arti yang berkenan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal dan tidak mengkaji makna yang terdapat dalam bahasa bunga, bahasa warna, dan bahasa prangko, karena hanya merupakan perlambang belaka, yang tidak diturunkan dari tanda-tanda linguistik
 Bahasa sangat penting untuk dipelajari karena kita akan berkmunikasi dengan orang harus menggunakan bahasa.
Semantik merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu kebahasaan. Bahasa indonesia sebagai Semantik merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji makna. Dari segi sejarah ilmu semantik (barat), semantik merupakan satu cabang kajian falsafah yang kemudiannya diangkat oleh disiplin linguistik sebagai salah satu daripada komponen bahasa yang utama selain sintaksis, morfologi dan fonologi. Ada yang merasakan bahawa kajian semantik seharusnya menjadi fokus utama dalam linguistik kerana peranan utama bahasa adalah untuk mengungkapkan sesuatu yang bermakna. Dalam ilmu linguistik terdapat beberapa pendekatan dalam kajian semantik seperti semantik struktural, semantik berasaskan kebenaran, semantik formal dan juga semantik kognitif.

b. Saran
Perbedaan pandangan mengenai pengertian semantik semestinya menjadi motifasi bagi para penuntut ilmu untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan yang lebih sempurna dan tararah. Didaalam mempelajri semantik pun hendaknya dimengerti dan dipahami secara seksama. Sehingga pembelajar akan mengetahui semantik secara menyeluruh yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
Saran ini ditujukan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya dan mahasiswa pada jurusan kebahasaan terutama bahasa Indonesia, hendaklah di zaman yang serba berubah ini kita lebih tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi khususnya dalam bidang bahasa Indonesia. Kita harus melestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Perubahan yang terjadi perlu kita cermati dengan baik agar keaslian bahasa Indonesia tetap terjaga.
Demi menghindari pelanggaran hak cipta dan dengans mempertimbamgkan etika dalam penulisan karya ilmiah serta karya ilmiah itu menjadi bernilai dan berbobot, sebaiknya para penulis mengethui kaidah-kaidah mengutip dan penulisan daftar pustaka. Bila terjadi kesalahan dalam penulisan makalah ini saya harapkan keritik dan saran dari para pembaca, untuk penyempurnaan dalam penulisan  makalah untuk kedepannya.







DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Sejarah Melayu. Jakarta, 1952.
Aminuddin. 1998. Semantik Pengantar studi Tentang Makna. Bandung : Sinar Madu
Chaer, Abdul. 2007. Semantik Bahasa Indonesia ( Modul). Jakarta : Universitas Tebuka
Chaer, Abdul. 2003. Linguisik Umum. Jakarta : Rineka Cipta
Chaer, Abdul 2002. Semantik Bahasa Indonesia Jakarta : Rineka Cipta
Djoko Kentjono (ed.) 1982. Dasar-dasar linguistic umum Jakarta : Fakultas Sastra Universitas Indonesia
Faizah, Hasnah. 2008. Mata Kuliah Dasar Umum Bahasa Indonesia. Pekanbaru. Cendikia Insani.
Kridalaksana, Hari Murti. 1991. Masa Lampau Bahasa Indonesia. Yogyakarta : Kanisius









Selasa, 13 Desember 2011

Keluargaku...

Keluargaku adalah satu-satunya harta yang paling berharga, serta kehadiran seseorang terkasih membuat hidup ini lebih berarti. ini adalah foto keluarga ku tercinta, ayah, ibu, dua orang adikku, dan calon pendamping hidupku nantinya. mereka adalah orang sangat penting, dia adalah pahlawan dalam hidupku, tampa mereka aku tidak akan bisa seperti sekarang in. ayah dan ibu ibuku telah berkorban banyak demi menghidupi kelurga dan meyekolahkan ku, aku anak pertama dari tiga bersaudara.dan karna meeka akubisa melanjutkan pendidikan hingga kepergurua tinggi, jasa mereka begitu besa, mereka tidak pernah mengenal lelah, dan aku bersyukur kepada allah aku bisa seperti skarang ini, dan aku hidup di tengah-tengah keluarga yang menayangi aku. dan mengasihiku..kedua adi-adik ku sangat manja. dan rizal adalah orang yang begitu berarti dan bisa menjagaku ketika aku berjauhan dengan orang tuaku, karna sekarng aku sedang melnjutkan pendidikan perguruan tinggi di perantuan, yang jauh dari orang tua. dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. karna kedua orang tuaku menginginkan aku menjadi seorang yang sukses. dan jasa-jasa mereka akan ku ingat dan ku kenang, aku tidak akan pernah melupakan mereka dan ku akan membahagiakan kedua orang tua ku, serta adik-adikku, tidak lupa kepada orang tercita. Semoga niat, usaha, dan tawakal akan membawaku kesuksesan. karna Allah itu tidak pernah tdur dan selalu melihat apa yang dikerjakan oleh hamba-hambanya, dan Allah akan mengabulkan semua doa hambanya dan Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk kita. amin.. semoga Allah selalu melindungi keluargaku dan memberikan mereka kesehatan dan orang -orang yang tercita dan juga semoga mereka tetap dalam lingkungan orang-orang yang berada dalam keimanan. amin..

Senin, 12 Desember 2011

Belajar Dan Pembelajaran


Tugas (1)
TAKSONOMI BLOOM
Pengertian Taksonomi Bloom :
Taksonomi bloom merujuk pada taksonomi yang di buat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini peertama kali disusun oleh Benjami S Bloom Pada tahun 1956. Dalam Hal ini tujuan pendidikan di bagi menjadi beberapa domain( ranah kawasan) dan setiap domain tersebut di bagi kembali kedalam pembagianyang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.
Tujuan pendidikan di bagi kedalam 3 domain, yaitu:
1.      Kognitive Domain (Ranah kognitif) : Yang berisi perilaku- perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan pengertian dan keterampilan berpikir.
2.      Affecive domain (Ranah Afektif): Berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi seperti: minat, sikap, apresiasi dan penyesuaian diri.
3.      Psicomotor Domain (Ranah Psikomotor): Berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik, seperti tulisan tangan, mengetik dan pengoprasian mesin.
Taksonomi berasal dari bahasa Yunani Tassien bearti untuk mengklasifikasikan dan nomes berarti aturan. Taksonomi bearti klasifikasi berhirarki dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klsaifikasi semua hal yang bergerak, benda diam tempat dan kejadian sampai pada kemapuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa tema Taksonomi.   
Konsep Taksonnomi Bloom dikembangkan pada tahun 1956 oleh Benjamin Bloom, Seseorang psikolog bidang pendidikan konsep ini mengklasifikasikan tujuan pendidikan dalam tiga ranah yaitu: kognitif, afektif dan psikomotor.

1.      Domain Kognitif
Blom membagi domain kognisi kedalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian, kedua bagian tersebut berupa kemapuan dan keterampilan,
Pengetahuan (Knowledge)
Berisikan kemapuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, defenisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi prinsip dasar dan sebagainya.
Pemahaman ( Comperhension)
Dikenali Dari kemapuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan table dengan arahan table dan sebagainya.
Aplikasi( Application )
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampian untuk menerapkan gagasan prosedur, metode rumus, teori dan sebagainya didalam kondisi kerja.
Analisis ( Analysis )
Tingkat analisis, seseorang mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi bagi atau menstruktur informasi kedalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola dan hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dari skenario yang rumit.
Sintesis ( Synthesis )
Satu tingkat diatas analisa, seseorang ditingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah scenario yang sebelumnya tidak terlihat dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan.


Evaluasi ( Evaluation )
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi gagasan, metodologi dan sebagainya dengan menggunakan kreteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektifitas atau manfaatnya.
Pembagian domain ini disusun oleh Bloom dengan David Krathwol
Receiving / Attending (Penerimaan)
Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena dilingkunganya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian mempertahankanya dan mengarahkanya.
Responding ( Tanggapan )
Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada dilingkunganya, meliputi persetujuan Kesediaan dan kepusan dalam memberikan tanggapan.
Valuing ( Penghargaan )
Berkaitan dengan harga atau nilai yang ditetapkan pada suatu objek fenomena atau tingkah laku. Penilaian berdasarkan pada internalisasi serangkaian nilai tertentu yang di ekspresikan kedalam tingkah laku.
Organization ( pengorganisaian ).
Memadukan nilai-nilai yang berbeda menyelesaikan konflik diantarannya dan membentuk suatu nilai yang konsisten.
Characterization by a value or value complex ( Karakterisasi berdasarkan nilai-nilai)
Memiliki system nilai yang mengendalikan tingkah lakunya sehingga menjadi karaateristik gaya hidupnya.
3). Domain Psicomotor
Rincian dalam domain ini tidak di buat oleh bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain lain yang dibuat oleh Bloom.
Perception ( Persepsi )
Penggenuaan alat indra untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
Set ( kesiapan )
Kesiapan fisik, mental dan emosional untuk melakukan gerakan.
Guided Response ( Respon terpimpin )
Tahap awal dan mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk didalamnya. Termasuk didalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
Mechanism ( Mekanisme )
Membiasakan gerakan-gerakan yang biasa dipelajari sehingga tampil meyakinkan dan cakap.
Complex over response tampak yang kompleks
Gerakan motoris yang terampil yang didalamnya terdiri dari gerakan pola-pola yang kompleks.
Adaptation ( Penyesuaian )
Keterampilan yang sudah berkembang sehungga dapat disesuaikan berbagai situasi.
Origination ( Penciptaan )
Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan atau permasalahan.

Dari ketiga ranah tersebut yang pertama adalah ranah afektif , karena adanya 3 komponen ; IQ-EQ-SQ
Karena adanya sikap yang akan melahirkan budaya belajar, menjadi budaya ketika banyak yang melakukanya dari sebuah kebiasaan.
Tugas (2)
MOTIVASI DALAM BELAJAR
1). Pengertian Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan yang dimiliki seseorang yang timbul dari dalam dalam diri sertan dari orang-orang sekitar dan linguknganya untuk mencapai sesuatu yang diinginkan yang sifatnya bisa positif dan negatife.
Pengertian motivasi dalam belajar adalah Huitt. W. (2001) mengatakan motivasi adalah suatu kondisi atau status internal kadang-kadang diartikan sebagai, kebutuhan keinginan atau hasrat. Yang mengarahkan perilaku seseorang untuk aktif bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan. Jadi ada tiga kata kunci tentang pengertian motivasi dalam belajar menurut huitt , yaitu
*      Kondisi atau status internal itu mengaktifkan dan memberi arah pada perilaku seseorang.
*      Keinginan yang member tenaga dan mengarahkan perilalku seseorang untuk mencapai suatu tujuan.
*      Tingkat kebutuhan dan keinginan akan berpengaruh terhadap intensitas seseorang.
Thursan Hakim (2000:26) Mengemukakan pengertian motivasi adalah suatu dorongan kehendak menyebapkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu, dalam belajar yang ditimbulkan dalam motivasi tersebut.

Pengertian motivasi yang lebih lengkap menurut Sudarwan Danim (2000;2) motivasi diartikan sebagai kekuatan, dorongan kebutuhan, semangat, tekanan atau mekanisme psikologis yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan pembangkit motivasi baik internal maupun eksternal.
Motivasi merupakan psikologis yeng mencerminkan sikap, kebutuhan persepsi dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Motivasi sebagai proses psikolog timbul diakibatkan oleh factor didalam diri seseornag itu sendiri yang disebut ekstrinsik.
Faktor intrinsik berupa keperibadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau kemasa depan, sedangkan ekstrinsik dapat ditimbulkan oleh berbagai sumber, bisa karena pengaruh pemimpin. Kolega atau factor-faktor lain yang kompleks.
Berkaitan dengan proses belajar siswa motivasi belajar sangatlah diperlukan diyakini bahwa hasil belajar akan menigkatkan kalau siswa mempunyai motivasi yang kuat. Motivasi belajar adalah keinginan siswa untuk mengambil bagian didalam proses pembelajaran. (Linda s. Lumsden ;1994). Siswa pada dasarnya termotivvasi untuk melakukan aktivitas untuk dirinnya sendiri karena ingin mendapatkan kesenangan dari pelajaran itu atau merasa terpenuhi kebutuhanya. Ada juga sisswa yang termotivasi melaksanakan belajar dalam rangka memperoleh penghargaan aatu menghindari hukuman dari luar dirinya sendiri seperti, nilai-nilai, tanda penghargaan atau pujian guru.( mark lepper.1998)
Menurut Hermani Marshall istilah motivasi belajar memiliki arti yang sedikit berbeda ia menggambarkan bahwa motivasi belajar adalah kebermaknaan, nilai, dan keuntungan-keuntungan kegiatan belajar-belajar tersebut cukup menarik bagi siswa untuk melakukan kegiata belajar, pendapat lain belajar itu dindai oleh penjangka panjang, kualitas keterlibatan didalam pelajaran dan kesanggupan untuk melakukan proses belajar.
Dalam uaraian diatas dapat disimpulkan bahwa, motivasi belajar adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar, karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar. Kegiatan itu dilakukan dengan kesungguhan hati dan terus menerus dalam rangka mencari tujuan.
1.      Motivasi dalam belajar.
Dalam perilaku belajar terdapat motivasi belajar. Motivasi belajar tersebut ada yang intrinsik dan ekstrinsik. Penguatan motivasi-motivasi belajar tersebut berada ditangan guru/ para pendidik dan anggota masyarakat lain. Guru sebagai pendidik bertugas memperkuat motivasi belajar  minimum selama 9 tahun pada usia wajib belajar. Orang yang memperkuat motivasi sepanjang hatyat. Ulama sebagai pendidik juga memperkuat motivasi belajar sepnjang hayat.
1.      Unsur – Unsur yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
a.      Cita-cita atau Aspirasi siswa
Motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil seperti keinginan belajar berjalan makan-makanan yang lezat. Berebut mpermainan , dapat membaca, dapat menyanyi, dan lain-lain selanjutnya. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemauan bergiat, bahkan di kemudian hari menimbulkan cita-cita dalam kehidupan. Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembnangan akal, moral kemauan bahasa, dan nilai-nilai kehidupan. Timbulnya cita-cita juga dibarengi keperibadian.
b.      Kemampuan Siswa
Kemampuan anak perlu di barengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Keinginan membaca perlu dibarengi dengan kemampuan mengenal dan mengucapkan huruf “r”,  misalnya dapat diatasi dengan drill terbentuknya kemampua mengucapkan “r” dengan didukung kemampuan mengucapkan huruf-huruf yang lain, maka keinginan anak tersebut terpenuhi keberhasilan membaca suatu buku bacaan akan menambah pengalaman hidup. Keberhasilan tersebut dan menyenagkan hatinya.
c.       Kondisi siswa
Kondisi siswa yang sedang sakit, lapar atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar. Sebaliknya anak yang sehat ,kenyang, dan gembira akan mudah memusatkan perhatian. Dengan kata lain kondisi jasmani dan rohani sangat mempengaruhi pada motivasi belajar, . Dengan kata lain, kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi kondisi belajar.
d.      Kondisi dan Lingkungan
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam., lingkungan tempat tinggal, pergaulanan sebaya , dan lingkungan kemasyarakatan. Bencana alam, tempat tinggal yang kumuh dan lain-lain sebaginya akan mengganggu kesungguhan belajar siswa, sebaliknya kampus yang indah, pergaulan siswa yang rukun akan memperkuat motivasi belajar. Dengan lingkungan yang aman, tentram, tertib dan indah maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e.        Unsur – unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Pembelajar yang masih berkembang jiwa raganya, lingkungan yang masih bertambah baik berkat dibangun, merupakan kondisi dinamis yang bagus bagi pembelajaran. Guru profesional diharapkan mampu memanfaatkan surat kabar mampu memanfaatkan surat kabar, majalah, siaran radio, televisi, dan sumber belajar di sekitar sekolah untuk memotivasi belajar.



f.       Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Guru adalah seorang pendidik profesional. Aia bergaul setiap hari dengan puluhan atau ratusan siswa.Interaksi efektif pergaulanya sekitar lima jam sehar. Rata-rata pergaulan guru di SD misalnya, 10-20 menit persiswa. Intensitas siswa tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa siswa. 
Guru adalah pendidik yang berkembang. Tugas profesionalnya mengharuskan dia belajar sepanjang hayat. Belajar sepanjang hayat tersebut sejalan dengan masyarat dan lingkungan sekitar sekolah yang juga dibangun. Guru tidak sendirian dalam belajar sepanjang hayat. Sebagai pendidik, guru dapat memilih dan memilih yang baik. Parsitipasi dan teladan memilih perilaku yang baik tersebut sudah merupakan untuk upaya membelajarkan siswa.
Upaya guru membelajarkan siswa terjadi di sekolah dan dan di luar sekolah. Upaya pembelajaran disekolah meliputi hal berikut: menyelenggarakan tertib belajar disekolah, membina disiplin belajar ditiap kesempatan, seperti pemanfaatan waktu dan pemeliharaan fasilitas disekolah. Dan lain sebagainya, disamping penyelenggaran tata tertib umum di atas, maka secara individual guru menghadapi anak didiknya, upaya pembelajaran tersebut adalah pemahaman tentang diri siswa dalam rangka kewajiban tata tertib belajar , pemanfaatan pengutan berupa hadiah, kritik, hukuman secara tepat guna, dan mendidik cita-cita.
2 Upaya meningkatkan Motivasi Belajar
a.      Optimalisasi Penerapan Prinsip Belajar.
Kehadiran siswa kelas merupakan awal motivasi belajar. Guru profesional tertarik perhatiannya pada pembelajaran siswa .Dalamupaya pembeljaran, guru berhadapan dengan siswa dan bahan ajar. Untuk dapat dapat membelajarkan atau mengajarkan bahan pelajaran dipersyaratkan. Guru telah mempelajari bahan pelajaran.dan lain-lain.

b.      Optimalisasi Unsur Dinamis Belajar dan Pembelajaran
Seorang siswa akan belajar dengan seutuh pribadinya. Perasaan, kemauan, pikiran, perhatian, fantasi dan kemapuan yang lain tertuju pada belajar. Meskipun demikian ketertujuan tidak selamamya berjalan lancar.
Guru adalah pendidik dan sekaligus pembimbing belajar . Guru lebih memahami keterbatasan waktu bagi siswa. Seringkali siswa sering lengah tentang nilai kesemptan belajar. Oleh karena itu guru dapat mengupayakan optimalisasi unsure-unsur dinamisyang ada dalam diri siswa. Dan yang ada dilingkungan siswa. Upaya optimalisasi tersebut sebagai berikut: Pemmberian kesempatan pada siswa untuk mengungkapakan hambatan belajar yang dialaminya, dan seterusnya.
c.       Optimalisasi Pemanfaatan Pengalaman dan Kemapuan Siswa
Perilaku belajar siswa merupakan rangkaian tindak-tindak belajar setiap hari. Untuk menghadapi hari bertolak dari jadwal pelajaran sekolah. Untuk menghadapi hari pertama masuk sekolah guru telah membuat rancangan penngajaran. Sedangkan siswa telah terbiasa dengan membaca buku pelajaran. Siswa  telah mengalami belajar mengalami belajar yang berhasil atau belajar yang gagal sebelumnya. Siswa menghayati “ belajar, dan “ manisnya keberhasilan belajar”. Oleh karena itu rancangan pengajaran satu tahun ajaran selalu diharapkan oleh seluruh siswa. Bagi siswa, rancangan tersebut “ibarat Perjalanan tamasya kegunung yang penuh liku-liku, yang sulit tetapi Menggembirakan’. Kehadiran hari yang “ penuh harap “, pada siswa perlu digunakan untuk membesarkan semangat belajar. Pengalaman belajar tentang hal-hal yang mudah sedang dan sukar tersebut bermanfaat bagi pengelolaan belajar siswa.
Guru adalah “ penggerak ‘ perjalanan belajar bagi siswa. Sebagai penggerak, maka guru perlu memahami dan mencatat kesukaran-kesukaran siswa. Sebagai fasilitator belajar, guru diharapkan memantau “tingkat kesukaran pengalaman belajar”.  Dan segera membantu mengatasi kesukaran belajar “ bantuan mengatasi kesukaran belajar “perlu diberikan sebelum siswa putus asa. Guru wajib menggunakan pengalaman belajar dan kemampuan siswa dalam mengelola siswa belajar.
d.      Pengembangan Cita-Cita dan Aspirasi Belajar
Belajar disekolah menjadi pola umum kehidupan masyarakat di Indonesia. Dewasa ini keinginan hidup lebih baik telah dimiliki oleh warga masyarakat, belajar telah di jadikan alat hidup. Wjib belajar selama Sembilan tahun merupakan kebutuhan hidup. Oleh karna iru warga mendambakan agar anak-anaknya memperoleh tempat belajar di sekolah yang lain.
Guru adalah pendidik anak bangsa. Ia peluang merekayasa dan mendidikkan cita-cita bangsa. Mendidikkan cita-cita belajar pada siswa merupakan upaya “ memberantas” kebodohan masyarakat. Upaya mendidkkan dan mengembangkan cita-cita belajar tersebut dapat dilakukaandengan berbagai cara. Cara-cara mendidikkan dapat di lakukan dengan berbagai cara adalah sebagai berikut : Guru menciptakan suasana belajar yang menggembirakan seperti mengatur kelas dan sekolah yang indah dan tertib. Setiap siswa dapat merasa “kerasan” atau betah tinggal di sekolah. Dan lain sebaagainya.
Struktur Pembelajaran Dan Motivasi Belajar
Keadaan motivasi belajar terkait erat dengan motivasi belajar yang di gunakan guru di kelas. Struktur pembelajaran di kelas adalah struktur kompetiti, struktur individualdan struktur kooperatif(Ames:1984) Guru harus dapt mengambil bagian – bagian yang baik dari setiap strruktur pembelajaran guna untuk meningkatkan belajar siswa. Ketiga struktur pembelajarandi atas secara singkat di jelaskan oleh Haris Mudjiman (2005:20-75) sebagai berikut:
1)      Struktur kooperatif struktur pembeljaran yang dilakukan dalam pendidikkan formal tradisional adalah : Struktur kooperatif system penilaina yang di gunakan dalam struktur ini mendorong siswa untuk berkompetisi kepada kawan-kawannya.
Dalam struktur pembelajaran siswa, Kompetisi belajar belajar siswa bersifat egoistic, karena kompetisi dalam konteks sistem tradisional menumbuhkan sikap defanse. Namun demikian struktur pembelajaran kompetitif motivasi belajar juga di lakukan bersifat secara social compertive. Tujuan belajar tidak semata-semata untuk menambahkan menguasai sesuatu kompetisi melainkan untuk menunjukkan kepada siswa lain bahwa ia lebih baik. Ini merupakan salah satu ciri motevasi ekstrinsik.
2)      .Struktur Individual adalah pembelajaran dengan struktur individual banyak di jalankan dalam system pendidikan formal tradisional tetapi ada pengusan-penugasan individual sesusai minat masing-masing, dalam struktur pembelajaran individual siswa dapat berorientasi kepada pencapaian kompetisi, bila masih terjadi kompetisi, yang terjadi adalah kompetisi dengan diri sendiri, bukan dengan kawan-kawannya.
Susunan bebas dari rasa tertekan umumnya siswa percaya bahwa kerasnya usalah yang menentukan keberhasilan belajar. Bukan semata-mata kemampuan dalam struktur pembelajaran ini motivasi belajar siswa berorientasi kepenugasan sesuatu kompetisi sifatnya motivasi intrinsik.
3)      Struktur kooperatif struktur pembelajaran ini dapat di laksanakan di kelas-kelas tradisional dalam bentuk kerja kelompok atau dikelas-kelas pendidikan non formal. Sifat kooperatif masih ada di setiap kelompok, tetapi orientasi belajar utamanya adalah kepencapaian suatu komponen aatu pemecahan masalah.





Tugas(3)
PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS
Mengelola kelas adalah Proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan pencapaian tujuan “Decdibud (Dalam Djamarah Rachnman 1997:11) Pengelolaan dalam pengertian  umum menurut Arikunto ( Dalam Djamarah 200:175) adalah pengadministrasian pengaturan atau penataan suatu kegiatan.
Menurut Hamalik (dalam Djamarah 2006:175) kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru” sedangkan menurut Ahmad (1995:1) “kelas ialah ruangan belajar dan atau rombongan belajar”
Hadri Annawawi memandang kelas dari dua sudut yaitu sebagai berikut:
Kelas dalam arti sempit yakni, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekadar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangan yang antara lain didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan ( Djamarah 2006:176)
Pengelolaan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.” (Mulyasa 2006:91). Sedangkan menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:177) ”Pengelolaan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas.” Ditambahkan lagi oleh Nawawi (dalam Djamarah 2006:177) ”Manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegitan-kegiatan yang kreatif dan terarah .” Arikunto (dalam Djamarah 2006:177) juga berpendapat “ bahwa penelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agardicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar yang seperti diharapkan.“Pengelolaan dapat dilihat dari dua segi, yaitu pengelolaan yang menyangkut siswa dan pengelolaan fisik.
Menurut Abdurrahman :
Kelas dalam arti sempit adalah ruangan tempat sejumlah warga belajar terlibat dalam proses balajar mengajar. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil (warga belajar) sebagai bagian bagian dari masyarakat sekolah, merupakan satu kesatuan unit kerja yang terorganisir di dalam penyelenggara proses belajar mengajar secara aktif, kreatif dan positif untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran dalam luas.
Fungsi pengelolaan kelas di tinjau dari beberapa problem
*      Membantu pembentukan kelompok
*      Membantu kelompok dlam pembagian tugas
*      Membantu kerja sama dalam menemukan tujuan-tujuan kelompok
*      Membantu individu agar dapat bekerja sama dalam kelompok atau kelas
*      Membantu prosedur kerja
*      merubah kondisi kelas



Memelihara tugas agar berjalan lancar antara lain adalah ;
*      Mengenal dan memahami kemampuan murid
*       Mempengaruhi kehidupan individu, terutama dengan teman-teman sebaya dalam kelas
*       Organisasi sekolah dapat membantu memelihara tugas- tugas
*      Mampu menciptakan iklim belajar mengajar berdasarkan hubungan manusiawi yang harmonis dan sehat
Dari fungsi pengelolaan kelas telah dipaparkan di atas, dapat di tarik kesimpulan bahwa pengelolaan kelas adalah: menciptakan kondisi kelas untuk tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran, atau dengan kata lain untuk mengoptimalkan komponen – komponen dalam kelas, berupa ketatalaksanan, aturan-aturan yang menentukan terjadinya proses belajar mengajar.
TUGAS (4)
PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum, guru perlu melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran mulai dari perencanaan, menentukan strategi, pemilihan materi dan metode pembelajaran, sampai pada penilaian. Serangkaian kegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tersebut sering disebut dengan pendekatan pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran adalah Ada beberapa macam pendekatan pembelajaran yang di gunakan dlam proses beljar mengajar adalah:
1 Pendekatan kontekstual
Pendekatan belajar kontekstual adalah berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami pembelajarn tidak hanya berorientasi target pennguasan materi, yang akan gagal membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian peruses pembelajaran lebih di utamakan dari pada hasil belajar. Sehingga guru di tuntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang kreatif dengan prinsip membelajarkan – memberdayakan siswa, bukan mengjar siswa.
Borko dan purnam mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual guru meilih konteks pembelajaran yang tepat bgi siswa dengan cara menngaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dimana anak hidup dan berada serta budya yang berlaku dalam masyarakatnya.
Dalam kelas kontekstual adalah membantu siswa mencapai tujuannya guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada member informasi. Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk merumuskan,menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat berupa penngetahuan keterampilan dari hasil “ menemikan sendiri” dan buka dari” apa kata guru.
2.      Pendekatan Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual yaitu: bahwa pendekatan di bangunoleh manusia sedikit demi sedikit yang hasinya di perluas melalui knteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba
Menurut teori kontruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru.
Pendekatan kontruktivisme sanagat penting dalam proses pembelajaran karena belajar di galakkan membina konsep sendiri dengan menghubung kaitkan perkara yang di pelajari dengan pengetahuan yang sedia ada pada mereka. Dalam proses ini, pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang suatu perkara.
3.      Pendekatan Deduktif – induktif
a. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif di tandai dengan pemaparan konsep, defenisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannnya dan konsep dasarnya.
b. Pendekatan induktif
Ciri utama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adlah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperumpamakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi di lingkungannya.
Pendekatan Konsep dan Proses
a.Pendekatan Konsep
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep bearti siswa di bombing memahami suatu bahasa melalui pemahaman konsep yang terkadang di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan sub konsep yang menjadi focus. Dengan beberapa metode siswa di bombing untuk memahami konsep.
b. Pendekatan proses
Pada pendekatan proses tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati berhipotesa, merencanakan, menafsirkan dan mngomunikasikan pendakatan keterampilan proses di gunakan dan di kembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar.
5.Pendekatan Sains , Teknologi, dan Masyarakat
Pendekatan Science, Technology and Society (STS) atau pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan  gabungan antara pendekatan konsep, keterampilan proses,CBSA, Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan. Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan terpadu antara sains, teknologi, dan isu yang ada di masyarakat. Adapun tujuan dari pendekatan STM ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan, sehingga mampu  mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah  diambilnya
Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme, yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.
Pendektan pembelajaran adalah kemampuan, kemahiran, dan keterampilan pendidik mengorganisai peserta didik (PD) agar belajar.
Keterampilan pendidik mengolah pesan ( bahan 0 ajar yang di peroleh dari berbagai sumber seperti, buku teks, kehidupan, pengalaman, internet dan lain-lain.

TUGAS (5)
HAKEKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

Hakekat Pembelajaran

Belajar merupakan salah satu factor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan peribadi dan peilaku individu. Nana syaoidi Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar,
Pengertian Belajar Menurut Para Ahli
Moh, Surya (1997) “ Belajar dapat di artikan sebagai suatu proses yang di lakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dalam lingkungannya.
Witherington (1952) “ Belajar merupakan perubahan dalam keperibadian yang di manifestasikan sebagai pola-pola respons yang baaru berbentuk keterampilan, sikap kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan.
Crow & Crow (1958) “ Belajar di perolehnya dari kebiasaan-kebiasaan dan sikap baru.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar pembelajaran merupakan bantuan yang di berikan kepada peserta didik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan , penguasaan, kemahiran, dan tabiat. Serta pembentukan sikap dan kepercayaaan kepada peserta didik dengan kata lain pembelajaaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Proses pembelajaran di alami sepanjang hayat. Seorang manusia serta dpat berlaku dimanapun dan kapan pun . Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pembelajaran. Walau mempunyai konotasi yang berbeda dalam konteks pendidikan guru mengajar agar anak didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hinggga mencapai suatu objektif yang di tentukan( Aspek Kognitif ). Juga dapat mempengaruhi perubahan (Aspek Afektif) serta aspek keterampilan (Aspek Psikomotor). didik member kesan hanya sebagai pekerjaan suatu pihak, Yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran Seorang peserta yang menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan siswa.

Ciri - Ciri pembelajaran
*      Upaya sadar dan di sengaja
*      Pembelajaran harus mebuat siswa belajar
*      Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan
*      Pelaksanaannya terkendali, baik isinya, waktu proses maupun hasilnya.
Tujuan Pembelajaran
*    Menyediakan kondisi atau situasi untuk belajar
*      Tujuan mendevenisikan tingkah laku siswa dalam bentuk dapat di ukur dan dapat di amati
*      Menyatakan tingkah laku yang di kehendaki
Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran di kemukakan oleh beberapa ahli yaitu sebagai berikut :
Ø  Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembealajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat di kerjakan para siswa pada kondisi siswa dan pada tingkat tertentu. Kemp (1997) dan David E kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatau penyataaan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang di wujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan belajar yang di harapkan. Henry Elligton (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu belajar, sementara itu Oemar hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu diskripsi tingkah laku yang di harapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran.

Hakekat Belajar

Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan mencakup segala sesuatu yang di fikirkan dan di kerjakan. Perubahan perilaku terjadi karena di dahului oleh proses pengalaman. Dari pengalaman yang satu ke pengalaman yang lain akan menyebapkan proses perubahan-perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga kecakapan keterampilan. Sikap pengertian harga diri minat watak dan penyesuaian  diri. Belajar tidak hanya mata pelajaran tetapi juga penyesuaian, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat penyesuaian keterampilan dan cita. Dengan demikian seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan diri orang yang belajar akibat adanya pelatihan dan pengalaman melalui interaksi.

Ciri- Ciri Belajar
Hakekat Belajar adalah Perubahan tingkah laku sehingga menurut ( Djamarah 2005 ) Belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
*      Belajar adalah perubahan siswa yang terjadi secara sadar
*      Perubahan dalam belajar secara fungsional
*      Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
*      Perubahan dalam belajar tidak bersifat sementara
*      Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
*      Perubahan mencakup semua aspek tingkah laku
*      Adanya kemampuan baru atau peubahan
*      Peubahan berlangsung menetap atau dapat di simpan
*      Perubahan terjadi harus dengan usaha

Tujuan Belajar
*      Sejumlah hasil yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan tugas belajar yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, di harapkan tercapai oleh siswa.
*      Suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang di haarapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar.

KECERDASAN GANDA

1)   Pengertian Kecerdasan Ganda

Merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam satu latar belakang budaya tertentu. ( Setiap orang jika di hadapkan pada suatu masalah, ia memiliki kemampuan untuk memecahkannya masalah yang berbeda sesuai dengan konteksnya ).
Otak Sebelah Kiri mengendalikan aktivitas – aktivitas mental yang mencakup matematika, bahasa, logika, analisis, menulis dan aktivitas lain yang sejenis.
Otak Sebelah Kanan Menangani aktivitas yang mencakup imajinasi, warna, musik, irama/ ritme, melamun dan aktivitas – aktivitas lain yang sejenis.


2.   Jenis – Jenis Intelegensi
1. Intelegensi Bahasa ( Linguistik )
Kemampuan berfikir dengan kata – kata seperti kemampuan unik memahami merangkai kata dan kalimat lisan maupun tertulis.
Ciri-Cirinya adalah ;
Ø Senang membaca buku atau apa saja bercerita atau mendongeng
Ø  Senang berkomunikasi,berbicara, berdialog, berdiskusi dan senang bahasa asing
Ø  Pandai menghubungkan atau merangkai kata-kata atau kalimat baik lisan maupun tertulis
Ø  Senang mendengarkan music dan sebagainya dengan baik
Ø  Pandai mengingat dan menghafal
Ø  Humoris

2.      Intelegensi Logis – Matematis
Kemampuan berfikir dalam penalaran atau menghitung, seperti kemampuan menelaah masalah secara logis, ilmiah, dan matematis.
Ciri – Cirinya adalah :
Ø Senang bereksprimen, bertanya, menyusun atau merangkai teka – teki
Ø Senang dan pandi berhitung dan bermain angka
Ø Senang mengorganisikan sesuatu menyusun scenario
Ø Mampu berfikir logis baik induktif maupun deduktif
Ø Senang silogisme
Ø Senang berfikir abstraksi dan simbolis.

3.      Intelegensi Visual Spasial
Kemampuan berfikir dengan citra dan gambar
Ciri – Cirinya adalah ;
Ø Senang merancang sketsa, gambar, desain grafik, table
Ø Peka terhadap citra warna dan sebagainya
Ø Pandai menvisulisasikan ide
Ø Imajinatif aktif
Ø Mudah menemukan jalan dalam ruang
Ø Mempunyai persepsi yang tepat dari berbagai sudut
Ø Mengenal relasi benda-benda dalam ruang

4.      Intelegensi Musikal
Kemampuan berfikir dengan nada irama dan melodi juga pada suara alam.
Ciri – Cirinya adalah ;
Ø Pandai mengubah atau mencipta music
Ø Senang dan pandai bernyanyi
Ø Pandai mengoperasikan music serta menjagai ritme
Ø Mudah menangkap music
Ø Peka terhadap suara dan music

5.      Intelegensi Kinesti Tubuh
Kemampuan yang berhubungan denagan gerakan tubuh termasuk gerakan motorik otak yang mengendalikan tubuh seperti kemampuan untuk mengendalikan dan menggunakan badan dengan mudah dan cekatan.
Ciri – cirinya adalah :
Ø Senang menari, acting
Ø Pandai dan aktif dalam olahraga tertentu
Ø Mudah berekspresi dengan tubuh
Ø Mampu memainkan mimic
Ø Koordinasi dan fleksibilitas tinggi
Ø Senang dan efektif berfikir sambil berjalan, berlari dan berolahraga
Ø Pandai merakit sesuatu menjadi suatu produk
Ø Senang bergerak atau tidak bisa diam dalam waktu yang lama
Ø Senang kegiatan di luar rumah



6.      Intelegensi Intrapersonal
Kemampuan berfikir untuk memahami diri sendiri melakukan refleksi diri dan bermetakognisi.
Ciri-cirinya adalah :
Ø Mampu menilai diri sendiri / Introspeksi diri, bermeditasi
Ø Mampu merencanakan tujuan, menyusun cita-cita dan rencana hidup yang jelas.
Ø Berjiwa independen/bebas
Ø Mudah berkonsentrasi
Ø Keseimbangan diri
Ø Senang mengekspresikan perasaan-perasaan yang bebeda
Ø Sdar akan realitas spiritual

7.      Intelegensi Interpersonal ( Sosial )
Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain
Ciri-cirinya adalah :
Ø Mampu berorgannisasi menjadi pemimpin dalam suatu organisasi
Ø Mampu bersosialisasi, menjadi mediator bemain dalam kelompok atau klub  bekerja sama dalam tim
Ø Senang permainan berkelompok dari pada individu
Ø Biasanya menjadi tempat mengadu orang lain
Ø Senang berkomunikasi verbal dan non verbal
Ø Peka terhadap teman
Ø Suka member feedback
Ø Mudah mengenal dan membedakan perasaan orang lain

8.      Intelegensi Naturalis
Kemampuan untuk memahami gejala alam



Ciri-cirinya adalah
Ø Senang terhadap flora dan fauna, bertani, berkebun,memelihara binatang, berinteraksi dengan binatang, berburu
Ø Pandai melihat perubahan alam, meramal cuaca meneliti alam.
Ø Senang kegiatan di alam terbuka

Penggolongan Intelegensi

IQ
EQ
SQ
Bahasa ( Linguistik )
Logis – matematis
§  Visual
§  Musikal
§  Intra Personal
§  Kinestetik Tubuh
§  Interpersonal
§  Naturalis

TUGAS (6).
MASALAH MASALAH DALAM BELAJAR

1.      Defenisi Masalah Dalam Belajar
“Belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagaiü hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya”. belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan “Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”                          


Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan”.Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.
1). Masalah-Masalah Internal Belajar
Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar. Terdapat beberapa faktor intern yang dialamai dan dihayati oleh siswa dan hal ini akan sangat berpengaruh terhadap proses belajar. Faktor-faktor tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
Ø  Sikap Terhadap Belajar
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tenyang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian terhadap sesuatu memberikan sikap menerima, menolak atau mengabaikannya begitu saja. Selama melakukan proses pembelajaran sikap siswa akan menentukan hasil dari pembelajaran tersebut.
Ø  Motivasi Belajar
Tidak diragukan bahwa dorongan belajar mempunyai peranan besar dalam menumbuhkan semangat pada siswa untuk belajar. Karena seorang siswa meski memiliki semangat yang tinggi dan keinginan yang kuat, pasti akan tetap ditiup oleh angin kemalasan, tertimpa keengganan dan kelalaian. Maka tunas semangat ini harus dipelihara secara terus menerus.Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar.
Ø  Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian guru perlu melakukan berbagai strategi belajar mengajar dan memperhatikan waktu belajar serta selingan istirahat. Yang perlu diperhatikan oleh guru ketika memulai proses belajar ialahsebaiknya seorang guru tidak langsung melakukan pembelajaran namun seorang guru harus memusatkan perhatian siswanya sehingga siap untuk melakukan pembelajaran.
Ø  Mengolah Bahan Belajar
Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menrima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar merupakan nilai nilai dari suatu ilmu pengetahuan, nilai agama, nilai kesusilaan, serta nilai kesenian. Kemampuan siswa dalam mengolah bahan pelajaran menjadi makin baik jika siswa berperan aktif selama proses belajar.
Ø  Menyimpan Perolehan Hasil Belajar
Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam jangka waktu yang pendek maupun dalam jangka waktu yang panjang. Proses belajar terdiri dari proses pemasukan , proses pengolahan kembali dan proses penggunaan kembali. Biasanya hasil belajar yang disimpan dalam jagka waktu yang panjang akan mudah dilupakan oleh siswa. Hal ini akan terjadi jika siswa tidak membuka kembali bahan belajar yang telah diberikan oleh seorang guru.
Ø  Menggali Hasil Belajar Yang Tersimpan
Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Dalam hal baru maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali atau mengaitkannya dengan bahan lama. Dalam hal pesan lama maka siswa akan memanggil atau membangkitkan kembalipesan dan pengalaman lama untuk suatu unjuk hasil belajar.
Ø  Kemampuan Berprestasi
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan puncak suatu proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan hasil belajar yang telah lama ia lakukan. Siswa menunjukan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau menstransfer hasil belajar. Dari pengalaman sehari-hari di sekolah diketahui bahwa ada sebagian siswa tidak mampu berprestasi dengan baik.
Ø  Rasa Percaya Diri Siswa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan
Ø  Intelegensi Dan Keberhasilan Belajar
Intelegensi merupakan suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi actual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari.
Ø  Kebiasaan Belajar
Kebiasaan-kebiasaan belajar siswa akan mempengaruhi kemampunanya dalam berlatih danmenguasai materi yang telah disampaikan oleh guru.
Ø  Cita-Cita Siswa
Cita-cita sebagai motivasi intrinsic perlu didikan. Didikan memiliki cita-cita harus ditanamkan sejak mulai kecil. Cita-cita merupakan harapan besar bagi siswa sehingga siswa selalu termotivasi untuk belajar dengan serius demi menggapai cita-cita tersebut. Dengan mengaitkan pemilikan cita-cita dengan kemampuan berprestasi maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan kemampuannya sendiri.
2.Faktor-Faktor Ekstern Belajar
Proses belajar didorong oleh motivasi intrinsic siswa. Disamping itu proses belajar juga dapat terjadi, atau menjadi bertambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata lain aktifitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik. Program pembelajaran sebagai rekayasa pendidikan guru di sekolah merupakan factor eksternal belajar. Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa factor eksternal yang berpengaruh pada aktifias belajar. Faktor-fsktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut:
Ø  Guru Sebagai Pembina Siswa Belajar
Guru adalah pengajar yang mendidik . Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi bidang studi tertentu. Sebagai seorang pribadi ia juga mengembangkan diri menjadi pribadi utuh





Ø  Prasarana Dan Sarana Pembelajaran
Prasarana pembelajaran meliputi sarana olahraga, gedung sekolah ruang belajar, tempat ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olahraga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah dan berbagai media pengajaran yang lain. Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik.
Ø  Kebijakan Penilaian
Kegiatan penilaian merupakan proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja tersebut maka proses belajar berhenti untuk sementara. Dan terjadilah penilaian. Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. Pelaku aktif dalam belajar adalah siswa. Pelaku aktif dalam pembelajaran adalah guru.
Ø  Lingkungan Sosial Siswa Di Sekolah
Tiap siswa dalam lingkunga sosial memiliki kedudukan, peranan dan tanggung jawab sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi pergaulan seperti hubungan sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi hubungan akrab kerjasama, kerja berkoprasi, berkompetisi, bersaing, konflik atau perkelahian
Ø  Kurikulum Sekolah
Kurikulum yang diberlakukan di sekolahadalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah, atau yayasan pendidikan. Kurikulum disusun berdasarkan tuntutan kemajuan masyrakat.


4).Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar
Kesulitan belajar ini merupakan suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis pernyataan ( manifestasi ). Karena guru bertanggung jawab terhadap proses belajar-mengajar, maka ia seharusnya memahami manifestasi gejala-gejala kesulitan belajar. Pemahaman ini merupakan dasar dalam usaha memberikan bantuan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.Pada dasarnya dari setiap jenis-jenis masalah, khususnya dalam masalah belajar murid di SD, cenderung bersumber dari faktor-faktor yang melatarbelakanginya ( penyebabnya ). Seorang guru setelah mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar serta jenis masalah apa yang dihadapinya. Selanjutnya guru dapat melaksanakan tahap berikutnya, yaitu mencari sebab-sebab terjadinya masalah yang dialami murid dalam belajar. Meskipun seorang guru tidak mudah menentukan sebab-sebab terjadi masalah yang sesungguhnya, karena masalah belajar cenderung sangat kompleks.
1.Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri ), antara lain:
*      Gangguan secara fisik Seperti kurang berfungsi organ-organ alat bicara dan lain-lain sebagainya.
*      Ketidakseimbangan mental, adanya gangguan mental.
*      Kelemahan emosional
*      Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan yang disebapkan oleh sikap salah.


 Faktor Eksternal ( faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ), yaitu berasal dari
1). Sekolah, antara lain :
            Sifat kurikulum yang kurang fleksibel. Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru). Metode mengajar yang kurang memadai. Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.
2). Keluarga (rumah), antara lain:
Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis. Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya. Keadaan ekonomi.
4.Murid yang mengalami masalah belajar, dapat di identifikasikan melalui tes hasil belajar, tes kemapuan dasar, skla pengungkapan sikap dan hasil belajar.
1. Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar adalah alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana murid telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya murid-murid dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan
2. Tes Kemapuan Dasar
Setiap murid mempunyai kecerdasan atau kemampuan dasar. Tingkat kemampuan ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan menggunakan tes kecerdasan yang sudah baku.
4.   Skala sikap dan kebiasaan Belajar
Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. Sebagian dari hasil belajar, dtentukan oleh sikap dan kebiasaan yang dilakukan oleh murid dalam belajar. Kebiasaan belajar menunjuk pada bentuk dan pola perilaku yang dilakukan terus menerus oleh murid dalam belajar.
TUGAS (7)
HUBUNGAN ALAM DENGAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Belajar dari alam dapat diartikan secara sederhana adalah menjadikan alam sebagai sumber, media dan sarana belajar untuk memetik ilmu pengetahuan. Alam  adalah ruang memiliki karakteristik geografis yang luas, kaya dan variatif. Sekolah yang berada di daerah pantai, pertanian dan hutan tentu memiliki keberagaman dalam belajar dari alam.

Dalam metode belajar konvensional, ruang kelas merupakan tempat yang sering dan biasa digunakan untuk melakukan proses belajar-mengajar. Hal tersebut memang tidak salah, tetapi sedikit melupakan ”kelas’ yang memiliki nilai lebih, yakni alam.
Alam sebagai subjek selalu setia memberikan aneka pesan dan informasi yang berharga kepada subjek yang lain yaitu manusia. Namun, manusia memiliki   keterbatasan, yang berdampak pada tersumbatnya manusia dalam menangkap pesan dan informasi yang disampaikan oleh alam. Ketersumbatan komunikasi ini mengakibatkan alam murka, seperti terjadinya banjir besar yang berulang-ulang. Kejadian Ini menandakan manusia tidak memahami kehendak alam. Manusia memanfaatkan alam dengan cara-cara yang ilegal, dengan cara menggunduli pohon-pohon nan indah dan melakukan penebangan liar. Akibatnya adalah alam menjadi murka dengan munculnya aneka bencana di mana-mana,. Bahkan akhir-akhir ini dunia digegerkan dengan temuan pemanasan global yang siap menghancurkan planet bumi dalam beberapa tahun ke depan. Semua ini akibat ulah tangan manusia yang membuat alam murka. Padahal alam diciptakan untuk dicintai, karena dengan mencintai alam itu sebagai tanda wujud rasa terima kasih sekaligus sebagai rasa cinta makhluk kepada sang Khalik. Dalam mencintai alam berarti memelihara dan menjaganya dari kehancuran, tidak malah menghancurkannya.
Manusia sebagai mikrokosmos merupakan bagian dari alam sekaligus sebagai peneliti, pengamat dan pengelola alam. Manusia memiliki keterkaitan dengan alam dalam menjalani proses kesejarahannya. Hubungan manusia dengan alam bukan sekedar hubungan dalam perspektif   material saja, tapi lebih dari itu di antara keduanya terdapat rasa saling mencintai. Hal ini terbukti ketika manusia merindukan tempat kelahirannya ketika dia merantau di negeri lain. Dalam teori sosiologi hubungan manusia dengan manusia yang lain merupakan suatu keharusan atau tuntutan yang mesti dilakukan karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa yang lain, termasuk dengan alam sekitarnya.
Dalam proses belajar adakalanya memerlukan seorang pembimbing dalam hal ini katakanlah guru, proses belajar seperti ini biasanya dilaksanakan oleh lembaga-lembaga seperti sekolah, kursus dan lain sebagainya. Adakalanya tanpa membutuhkan pembimbing dalam hal ini belajar mandiri seperti membaca dan merenung untuk mendapatkan pelajaran, ilmu dan karya yang baik
Alam merupakan salah satu media pembelajaran potensial yang saat ini hampir dilupakan oleh para praktisi pendidik. Mereka kurang menyadari kalau alam sangat bagus digunakan sebagai tempat untuk melakukan proses belajar. Belajar dari alam bukan berarti kita hanya sibuk memperhatikan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh alam. Atau mengamati apa saja yang dihasilkan oleh alam. Belajar dari alam adalah alam digunakan sebagai tempat untuk melakukan proses belajar mengajar, dan apa yang bisa kita gunakan dari alam sebagai alat peraga atau pendukung dalam proses belajar. Agar siswa tidak hanya memahami materi yang diberikan oleh seorang guru sebatas pada alam ide, tetapi juga bisa dipelajari secara empiris.
Dalam pelajaran biologi misalnya, siswa bisa belajar tentang jenis-jenis unggas dan bagaimana cara merawat unggas tersebut. Untuk penggalian lebih dalam tentang hal ini, siswa bisa melakukan interaksi atau wawancara dengan pemelihara unggas. Bagaimana pakannya, cara merawat unggas yang baik, apa yang harus dihindari agar unggas bisa tumbuh dengan sehat. Karena secara praktik, pemelihara unggas lebih paham menangani unggas daripada seorang guru yang sekedar tahu dari buku.  
Kegiatan belajar di alam disesuaikan dengan alokasi waktu jam efektif yang disediakan di alam sejam, seminggu, sebulan atau semusim misalnya. Pembelajaran ini didampingi oleh guru matapelajaran terpadu tersebut. Belajar di alam mengandaikan kesiapan serta kemampuan guru dan manajemen sekolah yang memadai untuk mendampingi pembelajaran siswa di alam.
Kegiatan belajar seperti ini untuk me-refresh para pelajar untuk melatih daya intelejensi pelajar dalam menyerap pesan yang disampaikan oleh alam. Mudah-mudahan dengan kegiatan belajar seperti ini bisa menghasilkan para pelajar yang mengerti dan mengetahui keadaan alamnya sehingga para pelajar bisa beradaptasi, mendayagunakan dan memelihara dengan  baik pada nuansa alam lokal.
TUGAS (8)
PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang belangsung dalam segala lingkungandan sepanjang hidup (  Drs. Arif S Sadiman. M.sc ).
Pedidikan adalah ujung tombak suatu negara atau majunya negara sangat tergantung kondisi pendidikannya. Semakin berkembang pendidikan suatu negara , maka semakin besar dan majulah negara tersebut. Negara akan maju dan berkembang bila sektor pendidikan sebagai kunci pembangunanmenjadi skala prioritas. ( Yayasan Obor Indonesia . Jakarta, 2006 karangsn Drs. H. Isjoni. M. Si ).


Pengertian Karakter
Karakter Menurut bahasa karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu karena itu jika. Pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat di ketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi. Kondosi tertentu. (Rhonda Byme. The Secret, Jakarta. PT Gramedia.2007).
Pendidikan Karakter adalah: Pendidikan memberikan playanan, pelatihan pendidikan karakter bagi para pendidik ( Yayasan, Stat Direksi. Guru dan Tenaga Kependidikan Serta Siswa).
Pendidikan karakter adalah merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter skepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Menurut Nisbet, setiap pemahaman pendidikan harus bisa meleti 4 tahap ujian dalam prinsip di bawah ini sebelum di terima dalam pendidikan :
1).Petambahan beban kerja, artinya pembahasan dan eksprimen harus sudah di fikirkan jauh sebelumnya agar bisa menggantikan hal yang sudah usang. Bukan pada waktu krisis sedang menimpa, baru sibuk mencari penggantinya.
2).Kehilangan kepercayaan. Guru harus mempersiapkan diri dengan mempertinggi keahlian dalam rangka menerima dan mengembangkan ide-ide baru sehingga tidak langsung dan berdiam diri.
3).Masa kacau adalah Sebelumnya arah pembaharuan yang di serap jelas tujuannya. Tapi dalam hal masih dalam batas batas yang dapat di tanggung oleh para pengajar.

Faktor – faktor yang mesti di perhatikan dalam pembaharuan pendidikan adalah:
1). Guru
2) Siswa
3) Fasilitas
4) Program / Tujuan atau Rencana
5) Kurikulum
Apabila seseorang murid mendapatkan nilai rendah maka guru dapat merundingkannya dengan pihak pembimbing untuk memperoleh secara khusus.
Ada beberapa macam peranan Guru adalah:
1). Guru sebagai pembimbing peranan dalam modul adalah : sebagi pembimbing ia bukan satu-satunya penyampai informasi ia juga bukan penceramah lebar. Dalam proses belajar mengajarnya ia harus berada di tengah-tengah anak untuk memberikan dorongan. Tetapi berfungsi sebagai pembuka jalan pemecahan masalah.
2). Guru sebagai pengatur lingkungan. Penata belajar lingkungan yang relevan dengan tujuan membawa dampak belajar yang positif.
3). Guru sebagai partisipan. Ia berfungsi sebagai peserta ajar yang baik. Ia berfungsi juga sebagai pembuka jalan pemecahan masalah, ia berperan sebagai dalam diskusi dan pemberi arah belajar. ( Drs. Cice Wijaya, Drs. Djaja Djadjuri, drs Hatrabani Rusyan : Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan dan Pengajaran).
Karateristik Khusus :
*      Masa Pendidikan. Pendidikan berlangsung dalam setiap saat selama ada pengaruh lingkungan hidup dala setiap saat selama ada pengganti.
*      Lingkungan pendidikan. Pendidikan berlangsung dalam segala lingkungan hidup baik yang secara khusus di ciptakan untuk kepentingan pendidikan maupun yang ada dengan sendirinya.
*      Bentuk kegiatan. Dari bentuk yang misterius atau tak disengaja sampai tak terperogram ( drs. Arief. Sadiman M.sc ).
Tujuan Pendidikan Karakter bermaksud untuk membentuk anak – anak dengan karateristik sebagai berikut :
1). Membentuk dan membangun karakter anak yang mempunyai intelektualitas dan kematangan emosi yang di bingkai dengan nilai-nilai ruhiyah.
2). Membentuk anak mengembangkan kecerdasan yang optimal dalam aspek yang kognitif, emosi oral, dan spiritual ( Multipe ).
3). Membantu anak mencapai keseimbangan fungsionalisasi otak kiri dan otak kanan yang di bingkai denngan nilai-nilai ruhiyah.
4). Menguasai Life Skill ( Kecakupan Hidup ). Problem Solfer yang komunikator yang efektif. Mudah beradaptasi mampu menghadapi tantangan berani mengambil resiko.
Dalam pendidikan karakter, Likona ( 1992 ). Menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik yaitu ; Moral Knowning atau pengetahuan tentang moral. Moral Feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. Hal ini diperlukan agar siswa di didk mampu memahami, merasakan, mengerjakan sekaligus nilai0nilai.
1). Moral Knowning adalah Hal yang penting untuk di ajarkan.
2). Moral Feeling adalah aspek yang lain yang harus ditanamkan pada anak – anak yang merupakan sumber dari energi manusia untuk bertolaksesuai dengan prinsip-prinsip moral.
3). Moral Action adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat di wujudkan menjadi tindakan nyata. Perbuatan atau tindakan moral ini merupakan hasil dari dua komponen lainnya. ( Rohand Byne).
Karateristik atau ciri-ciri khas yang di pakai dalam proses belajar mengajar. Dalam pendidikan adalah :
1).Media Gravis / Media Visual
Media gravis di antaranya :
*      Gambar
*      Sketsa
*      Diagram
*      Bagan / Chat
*      Grafik
Media Audio di antaranya :
*      Radio
*      Televisi
Media Massa di antaranya ;
*      Koran
*      Majalah, Tabiat dan lain-lain.
( Radja Madjha Harja, revisi buku Perguruan tinggi Pt Raja Grafindo Persada.).
Penidikan Karakter
1.Karakter adalah perilaku yang di landaskan oleh nilai-nilai yang berdasarkan norma agama kebudayaan atau konstitusi, adat istiadat, dan estetika.
2.Pendidikan Karakter
Upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil.
3.Tujuan Pendidika karakter
Meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah melalui pembentukan karakter peserta didik, terpadu dan seimbang. Sesuai dengan standar kompenten lulusan.
Sasarannya adalah :
1). Seluruh SD, SMP, di Indonesia
2). Semua warga Sekolah, terutama para peserta didik sebagai peserta didik sebagai prioritas utama.
3) Pendidik berperan sebagai teladan ( Tutwuri Handayani )
Nilai karakter Dalam Hubungan Manusia dengan Tuhan
1)   Religius
Nilai Karakter Dalam hubungannya dengan diri sendiri.
1.      Kejujuran
2.      Kecerdasan
3.      Rasa Tanggung Jawab
4.      Kebersihan dan Kesehatan
5.      Kedisiplinan
6.      Berfikir Logis, Kritis, Kreatif, Inovatif
7.      Ketangguhan
8.      Keingintahuan
9.      Cinta Ilmu
10.  Rasa Percaya Diri
11.  Kemandirian
12.  Keberanian Mengambil Resiko
13.  Berorientasi Pada Tindakan
14.  Jiwa Kepemimpinan
15.  Kerja Keras

Nilai Karakter Dalam Hubungan Dengan Manusia.
1.      Tolong Menolong
2.      Kesantunan
3.      Kesadaran akan hak dan kewajiban diri dan orang lain.
4.      Kepatuhan pada aturan – aturan Sosial
5.      Menghargai karya dan prestasi orang lain
6.      Demokrasi
Nilai Krakter Dalam Hubungan Manusia dengan Lingkungan
1.      Nasionalisme
2.      Menghargai keberagaman
Nilai – Nilai Basis Pengembangan Karakter
1.      Religius
2.      Kejujuran
3.      Kecerdasan
4.      Tanggung Jawab
5.      Kebersihan dan Kesehatan
6.      Kedisiplinan
7.      Tolong Menolong
8.      Berfikir Logis kritis, Kreatif dan Inovatif.
( Kemendiknas dan Kementrian Ri 2011.Peningkatan Manajemen Melalui Penguatan Tata Kelola dan akuntabilitas di Sekolah /Madrasah. Jakarta : Negara ).