Tugas (1)
TAKSONOMI BLOOM
Pengertian Taksonomi Bloom :
Taksonomi bloom merujuk pada taksonomi yang di buat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi ini peertama kali disusun oleh Benjami S Bloom Pada tahun 1956. Dalam Hal ini tujuan pendidikan di bagi menjadi beberapa domain( ranah kawasan) dan setiap domain tersebut di bagi kembali kedalam pembagianyang lebih rinci berdasarkan hirarkinya.
Tujuan pendidikan di bagi kedalam 3 domain, yaitu:
1. Kognitive Domain (Ranah kognitif) : Yang berisi perilaku- perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan pengertian dan keterampilan berpikir.
2. Affecive domain (Ranah Afektif): Berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi seperti: minat, sikap, apresiasi dan penyesuaian diri.
3. Psicomotor Domain (Ranah Psikomotor): Berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik, seperti tulisan tangan, mengetik dan pengoprasian mesin.
Taksonomi berasal dari bahasa Yunani Tassien bearti untuk mengklasifikasikan dan nomes berarti aturan. Taksonomi bearti klasifikasi berhirarki dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klsaifikasi semua hal yang bergerak, benda diam tempat dan kejadian sampai pada kemapuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa tema Taksonomi.
Konsep Taksonnomi Bloom dikembangkan pada tahun 1956 oleh Benjamin Bloom, Seseorang psikolog bidang pendidikan konsep ini mengklasifikasikan tujuan pendidikan dalam tiga ranah yaitu: kognitif, afektif dan psikomotor.
1. Domain Kognitif
Blom membagi domain kognisi kedalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian, kedua bagian tersebut berupa kemapuan dan keterampilan,
Pengetahuan (Knowledge)
Berisikan kemapuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, defenisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi prinsip dasar dan sebagainya.
Pemahaman ( Comperhension)
Dikenali Dari kemapuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan table dengan arahan table dan sebagainya.
Aplikasi( Application )
Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampian untuk menerapkan gagasan prosedur, metode rumus, teori dan sebagainya didalam kondisi kerja.
Analisis ( Analysis )
Tingkat analisis, seseorang mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi bagi atau menstruktur informasi kedalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola dan hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dari skenario yang rumit.
Sintesis ( Synthesis )
Satu tingkat diatas analisa, seseorang ditingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah scenario yang sebelumnya tidak terlihat dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan.
Evaluasi ( Evaluation )
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi gagasan, metodologi dan sebagainya dengan menggunakan kreteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektifitas atau manfaatnya.
Pembagian domain ini disusun oleh Bloom dengan David Krathwol
Receiving / Attending (Penerimaan)
Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena dilingkunganya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian mempertahankanya dan mengarahkanya.
Responding ( Tanggapan )
Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada dilingkunganya, meliputi persetujuan Kesediaan dan kepusan dalam memberikan tanggapan.
Valuing ( Penghargaan )
Berkaitan dengan harga atau nilai yang ditetapkan pada suatu objek fenomena atau tingkah laku. Penilaian berdasarkan pada internalisasi serangkaian nilai tertentu yang di ekspresikan kedalam tingkah laku.
Organization ( pengorganisaian ).
Memadukan nilai-nilai yang berbeda menyelesaikan konflik diantarannya dan membentuk suatu nilai yang konsisten.
Characterization by a value or value complex ( Karakterisasi berdasarkan nilai-nilai)
Memiliki system nilai yang mengendalikan tingkah lakunya sehingga menjadi karaateristik gaya hidupnya.
3). Domain Psicomotor
Rincian dalam domain ini tidak di buat oleh bloom, tapi oleh ahli lain berdasarkan domain lain yang dibuat oleh Bloom.
Perception ( Persepsi )
Penggenuaan alat indra untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
Set ( kesiapan )
Kesiapan fisik, mental dan emosional untuk melakukan gerakan.
Guided Response ( Respon terpimpin )
Tahap awal dan mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk didalamnya. Termasuk didalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
Mechanism ( Mekanisme )
Membiasakan gerakan-gerakan yang biasa dipelajari sehingga tampil meyakinkan dan cakap.
Complex over response tampak yang kompleks
Gerakan motoris yang terampil yang didalamnya terdiri dari gerakan pola-pola yang kompleks.
Adaptation ( Penyesuaian )
Keterampilan yang sudah berkembang sehungga dapat disesuaikan berbagai situasi.
Origination ( Penciptaan )
Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan atau permasalahan.
Dari ketiga ranah tersebut yang pertama adalah ranah afektif , karena adanya 3 komponen ; IQ-EQ-SQ
Karena adanya sikap yang akan melahirkan budaya belajar, menjadi budaya ketika banyak yang melakukanya dari sebuah kebiasaan.
Tugas (2)
MOTIVASI DALAM BELAJAR
1). Pengertian Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan yang dimiliki seseorang yang timbul dari dalam dalam diri sertan dari orang-orang sekitar dan linguknganya untuk mencapai sesuatu yang diinginkan yang sifatnya bisa positif dan negatife.
Pengertian motivasi dalam belajar adalah Huitt. W. (2001) mengatakan motivasi adalah suatu kondisi atau status internal kadang-kadang diartikan sebagai, kebutuhan keinginan atau hasrat. Yang mengarahkan perilaku seseorang untuk aktif bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan. Jadi ada tiga kata kunci tentang pengertian motivasi dalam belajar menurut huitt , yaitu
Thursan Hakim (2000:26) Mengemukakan pengertian motivasi adalah suatu dorongan kehendak menyebapkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu, dalam belajar yang ditimbulkan dalam motivasi tersebut.
Pengertian motivasi yang lebih lengkap menurut Sudarwan Danim (2000;2) motivasi diartikan sebagai kekuatan, dorongan kebutuhan, semangat, tekanan atau mekanisme psikologis yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan pembangkit motivasi baik internal maupun eksternal.
Motivasi merupakan psikologis yeng mencerminkan sikap, kebutuhan persepsi dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Motivasi sebagai proses psikolog timbul diakibatkan oleh factor didalam diri seseornag itu sendiri yang disebut ekstrinsik.
Faktor intrinsik berupa keperibadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau kemasa depan, sedangkan ekstrinsik dapat ditimbulkan oleh berbagai sumber, bisa karena pengaruh pemimpin. Kolega atau factor-faktor lain yang kompleks.
Berkaitan dengan proses belajar siswa motivasi belajar sangatlah diperlukan diyakini bahwa hasil belajar akan menigkatkan kalau siswa mempunyai motivasi yang kuat. Motivasi belajar adalah keinginan siswa untuk mengambil bagian didalam proses pembelajaran. (Linda s. Lumsden ;1994). Siswa pada dasarnya termotivvasi untuk melakukan aktivitas untuk dirinnya sendiri karena ingin mendapatkan kesenangan dari pelajaran itu atau merasa terpenuhi kebutuhanya. Ada juga sisswa yang termotivasi melaksanakan belajar dalam rangka memperoleh penghargaan aatu menghindari hukuman dari luar dirinya sendiri seperti, nilai-nilai, tanda penghargaan atau pujian guru.( mark lepper.1998)
Menurut Hermani Marshall istilah motivasi belajar memiliki arti yang sedikit berbeda ia menggambarkan bahwa motivasi belajar adalah kebermaknaan, nilai, dan keuntungan-keuntungan kegiatan belajar-belajar tersebut cukup menarik bagi siswa untuk melakukan kegiata belajar, pendapat lain belajar itu dindai oleh penjangka panjang, kualitas keterlibatan didalam pelajaran dan kesanggupan untuk melakukan proses belajar.
Dalam uaraian diatas dapat disimpulkan bahwa, motivasi belajar adalah kesanggupan untuk melakukan kegiatan belajar, karena didorong oleh keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dari dalam dirinya ataupun yang datang dari luar. Kegiatan itu dilakukan dengan kesungguhan hati dan terus menerus dalam rangka mencari tujuan.
1. Motivasi dalam belajar.
Dalam perilaku belajar terdapat motivasi belajar. Motivasi belajar tersebut ada yang intrinsik dan ekstrinsik. Penguatan motivasi-motivasi belajar tersebut berada ditangan guru/ para pendidik dan anggota masyarakat lain. Guru sebagai pendidik bertugas memperkuat motivasi belajar minimum selama 9 tahun pada usia wajib belajar. Orang yang memperkuat motivasi sepanjang hatyat. Ulama sebagai pendidik juga memperkuat motivasi belajar sepnjang hayat.
1. Unsur – Unsur yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
a. Cita-cita atau Aspirasi siswa
Motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil seperti keinginan belajar berjalan makan-makanan yang lezat. Berebut mpermainan , dapat membaca, dapat menyanyi, dan lain-lain selanjutnya. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemauan bergiat, bahkan di kemudian hari menimbulkan cita-cita dalam kehidupan. Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembnangan akal, moral kemauan bahasa, dan nilai-nilai kehidupan. Timbulnya cita-cita juga dibarengi keperibadian.
b. Kemampuan Siswa
Kemampuan anak perlu di barengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Keinginan membaca perlu dibarengi dengan kemampuan mengenal dan mengucapkan huruf “r”, misalnya dapat diatasi dengan drill terbentuknya kemampua mengucapkan “r” dengan didukung kemampuan mengucapkan huruf-huruf yang lain, maka keinginan anak tersebut terpenuhi keberhasilan membaca suatu buku bacaan akan menambah pengalaman hidup. Keberhasilan tersebut dan menyenagkan hatinya.
c. Kondisi siswa
Kondisi siswa yang sedang sakit, lapar atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar. Sebaliknya anak yang sehat ,kenyang, dan gembira akan mudah memusatkan perhatian. Dengan kata lain kondisi jasmani dan rohani sangat mempengaruhi pada motivasi belajar, . Dengan kata lain, kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi kondisi belajar.
d. Kondisi dan Lingkungan
Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam., lingkungan tempat tinggal, pergaulanan sebaya , dan lingkungan kemasyarakatan. Bencana alam, tempat tinggal yang kumuh dan lain-lain sebaginya akan mengganggu kesungguhan belajar siswa, sebaliknya kampus yang indah, pergaulan siswa yang rukun akan memperkuat motivasi belajar. Dengan lingkungan yang aman, tentram, tertib dan indah maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e. Unsur – unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran
Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengan teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Pembelajar yang masih berkembang jiwa raganya, lingkungan yang masih bertambah baik berkat dibangun, merupakan kondisi dinamis yang bagus bagi pembelajaran. Guru profesional diharapkan mampu memanfaatkan surat kabar mampu memanfaatkan surat kabar, majalah, siaran radio, televisi, dan sumber belajar di sekitar sekolah untuk memotivasi belajar.
f. Upaya guru dalam membelajarkan siswa
Guru adalah seorang pendidik profesional. Aia bergaul setiap hari dengan puluhan atau ratusan siswa.Interaksi efektif pergaulanya sekitar lima jam sehar. Rata-rata pergaulan guru di SD misalnya, 10-20 menit persiswa. Intensitas siswa tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jiwa siswa.
Guru adalah pendidik yang berkembang. Tugas profesionalnya mengharuskan dia belajar sepanjang hayat. Belajar sepanjang hayat tersebut sejalan dengan masyarat dan lingkungan sekitar sekolah yang juga dibangun. Guru tidak sendirian dalam belajar sepanjang hayat. Sebagai pendidik, guru dapat memilih dan memilih yang baik. Parsitipasi dan teladan memilih perilaku yang baik tersebut sudah merupakan untuk upaya membelajarkan siswa.
Upaya guru membelajarkan siswa terjadi di sekolah dan dan di luar sekolah. Upaya pembelajaran disekolah meliputi hal berikut: menyelenggarakan tertib belajar disekolah, membina disiplin belajar ditiap kesempatan, seperti pemanfaatan waktu dan pemeliharaan fasilitas disekolah. Dan lain sebagainya, disamping penyelenggaran tata tertib umum di atas, maka secara individual guru menghadapi anak didiknya, upaya pembelajaran tersebut adalah pemahaman tentang diri siswa dalam rangka kewajiban tata tertib belajar , pemanfaatan pengutan berupa hadiah, kritik, hukuman secara tepat guna, dan mendidik cita-cita.
2 Upaya meningkatkan Motivasi Belajar
a. Optimalisasi Penerapan Prinsip Belajar.
Kehadiran siswa kelas merupakan awal motivasi belajar. Guru profesional tertarik perhatiannya pada pembelajaran siswa .Dalamupaya pembeljaran, guru berhadapan dengan siswa dan bahan ajar. Untuk dapat dapat membelajarkan atau mengajarkan bahan pelajaran dipersyaratkan. Guru telah mempelajari bahan pelajaran.dan lain-lain.
b. Optimalisasi Unsur Dinamis Belajar dan Pembelajaran
Seorang siswa akan belajar dengan seutuh pribadinya. Perasaan, kemauan, pikiran, perhatian, fantasi dan kemapuan yang lain tertuju pada belajar. Meskipun demikian ketertujuan tidak selamamya berjalan lancar.
Guru adalah pendidik dan sekaligus pembimbing belajar . Guru lebih memahami keterbatasan waktu bagi siswa. Seringkali siswa sering lengah tentang nilai kesemptan belajar. Oleh karena itu guru dapat mengupayakan optimalisasi unsure-unsur dinamisyang ada dalam diri siswa. Dan yang ada dilingkungan siswa. Upaya optimalisasi tersebut sebagai berikut: Pemmberian kesempatan pada siswa untuk mengungkapakan hambatan belajar yang dialaminya, dan seterusnya.
c. Optimalisasi Pemanfaatan Pengalaman dan Kemapuan Siswa
Perilaku belajar siswa merupakan rangkaian tindak-tindak belajar setiap hari. Untuk menghadapi hari bertolak dari jadwal pelajaran sekolah. Untuk menghadapi hari pertama masuk sekolah guru telah membuat rancangan penngajaran. Sedangkan siswa telah terbiasa dengan membaca buku pelajaran. Siswa telah mengalami belajar mengalami belajar yang berhasil atau belajar yang gagal sebelumnya. Siswa menghayati “ belajar, dan “ manisnya keberhasilan belajar”. Oleh karena itu rancangan pengajaran satu tahun ajaran selalu diharapkan oleh seluruh siswa. Bagi siswa, rancangan tersebut “ibarat Perjalanan tamasya kegunung yang penuh liku-liku, yang sulit tetapi Menggembirakan’. Kehadiran hari yang “ penuh harap “, pada siswa perlu digunakan untuk membesarkan semangat belajar. Pengalaman belajar tentang hal-hal yang mudah sedang dan sukar tersebut bermanfaat bagi pengelolaan belajar siswa.
Guru adalah “ penggerak ‘ perjalanan belajar bagi siswa. Sebagai penggerak, maka guru perlu memahami dan mencatat kesukaran-kesukaran siswa. Sebagai fasilitator belajar, guru diharapkan memantau “tingkat kesukaran pengalaman belajar”. Dan segera membantu mengatasi kesukaran belajar “ bantuan mengatasi kesukaran belajar “perlu diberikan sebelum siswa putus asa. Guru wajib menggunakan pengalaman belajar dan kemampuan siswa dalam mengelola siswa belajar.
d. Pengembangan Cita-Cita dan Aspirasi Belajar
Belajar disekolah menjadi pola umum kehidupan masyarakat di Indonesia. Dewasa ini keinginan hidup lebih baik telah dimiliki oleh warga masyarakat, belajar telah di jadikan alat hidup. Wjib belajar selama Sembilan tahun merupakan kebutuhan hidup. Oleh karna iru warga mendambakan agar anak-anaknya memperoleh tempat belajar di sekolah yang lain.
Guru adalah pendidik anak bangsa. Ia peluang merekayasa dan mendidikkan cita-cita bangsa. Mendidikkan cita-cita belajar pada siswa merupakan upaya “ memberantas” kebodohan masyarakat. Upaya mendidkkan dan mengembangkan cita-cita belajar tersebut dapat dilakukaandengan berbagai cara. Cara-cara mendidikkan dapat di lakukan dengan berbagai cara adalah sebagai berikut : Guru menciptakan suasana belajar yang menggembirakan seperti mengatur kelas dan sekolah yang indah dan tertib. Setiap siswa dapat merasa “kerasan” atau betah tinggal di sekolah. Dan lain sebaagainya.
Struktur Pembelajaran Dan Motivasi Belajar
Keadaan motivasi belajar terkait erat dengan motivasi belajar yang di gunakan guru di kelas. Struktur pembelajaran di kelas adalah struktur kompetiti, struktur individualdan struktur kooperatif(Ames:1984) Guru harus dapt mengambil bagian – bagian yang baik dari setiap strruktur pembelajaran guna untuk meningkatkan belajar siswa. Ketiga struktur pembelajarandi atas secara singkat di jelaskan oleh Haris Mudjiman (2005:20-75) sebagai berikut:
1) Struktur kooperatif struktur pembeljaran yang dilakukan dalam pendidikkan formal tradisional adalah : Struktur kooperatif system penilaina yang di gunakan dalam struktur ini mendorong siswa untuk berkompetisi kepada kawan-kawannya.
Dalam struktur pembelajaran siswa, Kompetisi belajar belajar siswa bersifat egoistic, karena kompetisi dalam konteks sistem tradisional menumbuhkan sikap defanse. Namun demikian struktur pembelajaran kompetitif motivasi belajar juga di lakukan bersifat secara social compertive. Tujuan belajar tidak semata-semata untuk menambahkan menguasai sesuatu kompetisi melainkan untuk menunjukkan kepada siswa lain bahwa ia lebih baik. Ini merupakan salah satu ciri motevasi ekstrinsik.
2) .Struktur Individual adalah pembelajaran dengan struktur individual banyak di jalankan dalam system pendidikan formal tradisional tetapi ada pengusan-penugasan individual sesusai minat masing-masing, dalam struktur pembelajaran individual siswa dapat berorientasi kepada pencapaian kompetisi, bila masih terjadi kompetisi, yang terjadi adalah kompetisi dengan diri sendiri, bukan dengan kawan-kawannya.
Susunan bebas dari rasa tertekan umumnya siswa percaya bahwa kerasnya usalah yang menentukan keberhasilan belajar. Bukan semata-mata kemampuan dalam struktur pembelajaran ini motivasi belajar siswa berorientasi kepenugasan sesuatu kompetisi sifatnya motivasi intrinsik.
3) Struktur kooperatif struktur pembelajaran ini dapat di laksanakan di kelas-kelas tradisional dalam bentuk kerja kelompok atau dikelas-kelas pendidikan non formal. Sifat kooperatif masih ada di setiap kelompok, tetapi orientasi belajar utamanya adalah kepencapaian suatu komponen aatu pemecahan masalah.
Tugas(3)
PENGERTIAN PENGELOLAAN KELAS
Mengelola kelas adalah Proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijakan dan pencapaian tujuan “Decdibud (Dalam Djamarah Rachnman 1997:11) Pengelolaan dalam pengertian umum menurut Arikunto ( Dalam Djamarah 200:175) adalah pengadministrasian pengaturan atau penataan suatu kegiatan.
Menurut Hamalik (dalam Djamarah 2006:175) kelas adalah suatu kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari guru” sedangkan menurut Ahmad (1995:1) “kelas ialah ruangan belajar dan atau rombongan belajar”
Hadri Annawawi memandang kelas dari dua sudut yaitu sebagai berikut:
Kelas dalam arti sempit yakni, ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Kelas dalam pengertian tradisional ini mengandung sifat statis karena sekadar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangan yang antara lain didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan ( Djamarah 2006:176)
Pengelolaan kelas merupakan ketrampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.” (Mulyasa 2006:91). Sedangkan menurut Sudirman (dalam Djamarah 2006:177) ”Pengelolaan kelas adalah upaya mendayagunakan potensi kelas.” Ditambahkan lagi oleh Nawawi (dalam Djamarah 2006:177) ”Manajemen atau pengelolaan kelas dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegitan-kegiatan yang kreatif dan terarah .” Arikunto (dalam Djamarah 2006:177) juga berpendapat “ bahwa penelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agardicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar yang seperti diharapkan.“Pengelolaan dapat dilihat dari dua segi, yaitu pengelolaan yang menyangkut siswa dan pengelolaan fisik.
Menurut Abdurrahman :
Kelas dalam arti sempit adalah ruangan tempat sejumlah warga belajar terlibat dalam proses balajar mengajar. Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil (warga belajar) sebagai bagian bagian dari masyarakat sekolah, merupakan satu kesatuan unit kerja yang terorganisir di dalam penyelenggara proses belajar mengajar secara aktif, kreatif dan positif untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran dalam luas.
Fungsi pengelolaan kelas di tinjau dari beberapa problem
Memelihara tugas agar berjalan lancar antara lain adalah ;
Dari fungsi pengelolaan kelas telah dipaparkan di atas, dapat di tarik kesimpulan bahwa pengelolaan kelas adalah: menciptakan kondisi kelas untuk tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran, atau dengan kata lain untuk mengoptimalkan komponen – komponen dalam kelas, berupa ketatalaksanan, aturan-aturan yang menentukan terjadinya proses belajar mengajar.
TUGAS (4)
PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum, guru perlu melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran mulai dari perencanaan, menentukan strategi, pemilihan materi dan metode pembelajaran, sampai pada penilaian. Serangkaian kegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tersebut sering disebut dengan pendekatan pembelajaran.
Pendekatan pembelajaran adalah Ada beberapa macam pendekatan pembelajaran yang di gunakan dlam proses beljar mengajar adalah:
1 Pendekatan kontekstual
Pendekatan belajar kontekstual adalah berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami pembelajarn tidak hanya berorientasi target pennguasan materi, yang akan gagal membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian peruses pembelajaran lebih di utamakan dari pada hasil belajar. Sehingga guru di tuntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang kreatif dengan prinsip membelajarkan – memberdayakan siswa, bukan mengjar siswa.
Borko dan purnam mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual guru meilih konteks pembelajaran yang tepat bgi siswa dengan cara menngaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dimana anak hidup dan berada serta budya yang berlaku dalam masyarakatnya.
Dalam kelas kontekstual adalah membantu siswa mencapai tujuannya guru lebih banyak berurusan dengan strategi dari pada member informasi. Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk merumuskan,menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat berupa penngetahuan keterampilan dari hasil “ menemikan sendiri” dan buka dari” apa kata guru.
2. Pendekatan Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual yaitu: bahwa pendekatan di bangunoleh manusia sedikit demi sedikit yang hasinya di perluas melalui knteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba
Menurut teori kontruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru.
Pendekatan kontruktivisme sanagat penting dalam proses pembelajaran karena belajar di galakkan membina konsep sendiri dengan menghubung kaitkan perkara yang di pelajari dengan pengetahuan yang sedia ada pada mereka. Dalam proses ini, pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang suatu perkara.
3. Pendekatan Deduktif – induktif
a. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif di tandai dengan pemaparan konsep, defenisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannnya dan konsep dasarnya.
b. Pendekatan induktif
Ciri utama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adlah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperumpamakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi di lingkungannya.
Pendekatan Konsep dan Proses
a.Pendekatan Konsep
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep bearti siswa di bombing memahami suatu bahasa melalui pemahaman konsep yang terkadang di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan sub konsep yang menjadi focus. Dengan beberapa metode siswa di bombing untuk memahami konsep.
b. Pendekatan proses
Pada pendekatan proses tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati berhipotesa, merencanakan, menafsirkan dan mngomunikasikan pendakatan keterampilan proses di gunakan dan di kembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar.
5.Pendekatan Sains , Teknologi, dan Masyarakat
Pendekatan Science, Technology and Society (STS) atau pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan gabungan antara pendekatan konsep, keterampilan proses,CBSA, Inkuiri dan diskoveri serta pendekatan lingkungan. Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan pendekatan terpadu antara sains, teknologi, dan isu yang ada di masyarakat. Adapun tujuan dari pendekatan STM ini adalah menghasilkan peserta didik yang cukup memiliki bekal pengetahuan, sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-masalah dalam masyarakat serta mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang telah diambilnya
Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah pendekatan konstruktivisme, yaitu peserta didik menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui.
Pendektan pembelajaran adalah kemampuan, kemahiran, dan keterampilan pendidik mengorganisai peserta didik (PD) agar belajar.
Keterampilan pendidik mengolah pesan ( bahan 0 ajar yang di peroleh dari berbagai sumber seperti, buku teks, kehidupan, pengalaman, internet dan lain-lain.
TUGAS (5)
HAKEKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Hakekat Pembelajaran
Belajar merupakan salah satu factor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan peribadi dan peilaku individu. Nana syaoidi Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar,
Pengertian Belajar Menurut Para Ahli
Moh, Surya (1997) “ Belajar dapat di artikan sebagai suatu proses yang di lakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dalam lingkungannya.
Witherington (1952) “ Belajar merupakan perubahan dalam keperibadian yang di manifestasikan sebagai pola-pola respons yang baaru berbentuk keterampilan, sikap kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan.
Crow & Crow (1958) “ Belajar di perolehnya dari kebiasaan-kebiasaan dan sikap baru.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar pembelajaran merupakan bantuan yang di berikan kepada peserta didik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan , penguasaan, kemahiran, dan tabiat. Serta pembentukan sikap dan kepercayaaan kepada peserta didik dengan kata lain pembelajaaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Proses pembelajaran di alami sepanjang hayat. Seorang manusia serta dpat berlaku dimanapun dan kapan pun . Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pembelajaran. Walau mempunyai konotasi yang berbeda dalam konteks pendidikan guru mengajar agar anak didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hinggga mencapai suatu objektif yang di tentukan( Aspek Kognitif ). Juga dapat mempengaruhi perubahan (Aspek Afektif) serta aspek keterampilan (Aspek Psikomotor). didik member kesan hanya sebagai pekerjaan suatu pihak, Yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran Seorang peserta yang menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan siswa.
Ciri - Ciri pembelajaran
Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran di kemukakan oleh beberapa ahli yaitu sebagai berikut :
Ø Robert F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembealajaran adalah perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat di kerjakan para siswa pada kondisi siswa dan pada tingkat tertentu. Kemp (1997) dan David E kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatau penyataaan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang di wujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan belajar yang di harapkan. Henry Elligton (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu belajar, sementara itu Oemar hamalik (2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu diskripsi tingkah laku yang di harapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran.
Hakekat Belajar
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan mencakup segala sesuatu yang di fikirkan dan di kerjakan. Perubahan perilaku terjadi karena di dahului oleh proses pengalaman. Dari pengalaman yang satu ke pengalaman yang lain akan menyebapkan proses perubahan-perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga kecakapan keterampilan. Sikap pengertian harga diri minat watak dan penyesuaian diri. Belajar tidak hanya mata pelajaran tetapi juga penyesuaian, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat penyesuaian keterampilan dan cita. Dengan demikian seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan diri orang yang belajar akibat adanya pelatihan dan pengalaman melalui interaksi.
Ciri- Ciri Belajar
Hakekat Belajar adalah Perubahan tingkah laku sehingga menurut ( Djamarah 2005 ) Belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Tujuan Belajar
KECERDASAN GANDA
1) Pengertian Kecerdasan Ganda
Merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam satu latar belakang budaya tertentu. ( Setiap orang jika di hadapkan pada suatu masalah, ia memiliki kemampuan untuk memecahkannya masalah yang berbeda sesuai dengan konteksnya ).
Otak Sebelah Kiri mengendalikan aktivitas – aktivitas mental yang mencakup matematika, bahasa, logika, analisis, menulis dan aktivitas lain yang sejenis.
Otak Sebelah Kanan Menangani aktivitas yang mencakup imajinasi, warna, musik, irama/ ritme, melamun dan aktivitas – aktivitas lain yang sejenis.
2. Jenis – Jenis Intelegensi
1. Intelegensi Bahasa ( Linguistik )
Kemampuan berfikir dengan kata – kata seperti kemampuan unik memahami merangkai kata dan kalimat lisan maupun tertulis.
Ciri-Cirinya adalah ;
Ø Senang membaca buku atau apa saja bercerita atau mendongeng
Ø Senang berkomunikasi,berbicara, berdialog, berdiskusi dan senang bahasa asing
Ø Pandai menghubungkan atau merangkai kata-kata atau kalimat baik lisan maupun tertulis
Ø Senang mendengarkan music dan sebagainya dengan baik
Ø Pandai mengingat dan menghafal
Ø Humoris
2. Intelegensi Logis – Matematis
Kemampuan berfikir dalam penalaran atau menghitung, seperti kemampuan menelaah masalah secara logis, ilmiah, dan matematis.
Ciri – Cirinya adalah :
Ø Senang bereksprimen, bertanya, menyusun atau merangkai teka – teki
Ø Senang dan pandi berhitung dan bermain angka
Ø Senang mengorganisikan sesuatu menyusun scenario
Ø Mampu berfikir logis baik induktif maupun deduktif
Ø Senang silogisme
Ø Senang berfikir abstraksi dan simbolis.
3. Intelegensi Visual Spasial
Kemampuan berfikir dengan citra dan gambar
Ciri – Cirinya adalah ;
Ø Senang merancang sketsa, gambar, desain grafik, table
Ø Peka terhadap citra warna dan sebagainya
Ø Pandai menvisulisasikan ide
Ø Imajinatif aktif
Ø Mudah menemukan jalan dalam ruang
Ø Mempunyai persepsi yang tepat dari berbagai sudut
Ø Mengenal relasi benda-benda dalam ruang
4. Intelegensi Musikal
Kemampuan berfikir dengan nada irama dan melodi juga pada suara alam.
Ciri – Cirinya adalah ;
Ø Pandai mengubah atau mencipta music
Ø Senang dan pandai bernyanyi
Ø Pandai mengoperasikan music serta menjagai ritme
Ø Mudah menangkap music
Ø Peka terhadap suara dan music
5. Intelegensi Kinesti Tubuh
Kemampuan yang berhubungan denagan gerakan tubuh termasuk gerakan motorik otak yang mengendalikan tubuh seperti kemampuan untuk mengendalikan dan menggunakan badan dengan mudah dan cekatan.
Ciri – cirinya adalah :
Ø Senang menari, acting
Ø Pandai dan aktif dalam olahraga tertentu
Ø Mudah berekspresi dengan tubuh
Ø Mampu memainkan mimic
Ø Koordinasi dan fleksibilitas tinggi
Ø Senang dan efektif berfikir sambil berjalan, berlari dan berolahraga
Ø Pandai merakit sesuatu menjadi suatu produk
Ø Senang bergerak atau tidak bisa diam dalam waktu yang lama
Ø Senang kegiatan di luar rumah
6. Intelegensi Intrapersonal
Kemampuan berfikir untuk memahami diri sendiri melakukan refleksi diri dan bermetakognisi.
Ciri-cirinya adalah :
Ø Mampu menilai diri sendiri / Introspeksi diri, bermeditasi
Ø Mampu merencanakan tujuan, menyusun cita-cita dan rencana hidup yang jelas.
Ø Berjiwa independen/bebas
Ø Mudah berkonsentrasi
Ø Keseimbangan diri
Ø Senang mengekspresikan perasaan-perasaan yang bebeda
Ø Sdar akan realitas spiritual
7. Intelegensi Interpersonal ( Sosial )
Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain
Ciri-cirinya adalah :
Ø Mampu berorgannisasi menjadi pemimpin dalam suatu organisasi
Ø Mampu bersosialisasi, menjadi mediator bemain dalam kelompok atau klub bekerja sama dalam tim
Ø Senang permainan berkelompok dari pada individu
Ø Biasanya menjadi tempat mengadu orang lain
Ø Senang berkomunikasi verbal dan non verbal
Ø Peka terhadap teman
Ø Suka member feedback
Ø Mudah mengenal dan membedakan perasaan orang lain
8. Intelegensi Naturalis
Kemampuan untuk memahami gejala alam
Ciri-cirinya adalah
Ø Senang terhadap flora dan fauna, bertani, berkebun,memelihara binatang, berinteraksi dengan binatang, berburu
Ø Pandai melihat perubahan alam, meramal cuaca meneliti alam.
Ø Senang kegiatan di alam terbuka
Penggolongan Intelegensi
| IQ | EQ | SQ |
| Bahasa ( Linguistik ) Logis – matematis | § Visual § Musikal § Intra Personal § Kinestetik Tubuh | § Interpersonal § Naturalis |
TUGAS (6).
MASALAH MASALAH DALAM BELAJAR
1. Defenisi Masalah Dalam Belajar
“Belajar adalah proses perubahan pengetahuan atau perilaku sebagaiü hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya”. belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pengertian belajar dapat didefinisikan “Belajar ialah sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”
Masalah belajar adalah suatu kondisi tertentu yang dialami oleh murid dan menghambat kelancaran proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan”.Kondisi tertentu itu dapat berkenaan dengan keadaan dirinya yaitu berupa kelemahan-kelemahan dan dapat juga berkenaan dengan lingkungan yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Masalah-masalah belajar ini tidak hanya dialami oleh murid-murid yang lambat saja dalam belajarnya, tetapi juga dapat menimpa murid-murid yang pandai atau cerdas.
1). Masalah-Masalah Internal Belajar
Dalam interaksi belajar mengajar siswa merupakan kunci utama keberhasilan belajar selama proses belajar yang dilakukan. Proses belajar merupakan aktivitas psikis berkenaan dengan bahan belajar. Terdapat beberapa faktor intern yang dialamai dan dihayati oleh siswa dan hal ini akan sangat berpengaruh terhadap proses belajar. Faktor-faktor tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
Ø Sikap Terhadap Belajar
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tenyang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian terhadap sesuatu memberikan sikap menerima, menolak atau mengabaikannya begitu saja. Selama melakukan proses pembelajaran sikap siswa akan menentukan hasil dari pembelajaran tersebut.
Ø Motivasi Belajar
Tidak diragukan bahwa dorongan belajar mempunyai peranan besar dalam menumbuhkan semangat pada siswa untuk belajar. Karena seorang siswa meski memiliki semangat yang tinggi dan keinginan yang kuat, pasti akan tetap ditiup oleh angin kemalasan, tertimpa keengganan dan kelalaian. Maka tunas semangat ini harus dipelihara secara terus menerus.Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Lemahnya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar.
Ø Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya. Untuk memperkuat perhatian guru perlu melakukan berbagai strategi belajar mengajar dan memperhatikan waktu belajar serta selingan istirahat. Yang perlu diperhatikan oleh guru ketika memulai proses belajar ialahsebaiknya seorang guru tidak langsung melakukan pembelajaran namun seorang guru harus memusatkan perhatian siswanya sehingga siap untuk melakukan pembelajaran.
Ø Mengolah Bahan Belajar
Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menrima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Isi bahan belajar merupakan nilai nilai dari suatu ilmu pengetahuan, nilai agama, nilai kesusilaan, serta nilai kesenian. Kemampuan siswa dalam mengolah bahan pelajaran menjadi makin baik jika siswa berperan aktif selama proses belajar.
Ø Menyimpan Perolehan Hasil Belajar
Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam jangka waktu yang pendek maupun dalam jangka waktu yang panjang. Proses belajar terdiri dari proses pemasukan , proses pengolahan kembali dan proses penggunaan kembali. Biasanya hasil belajar yang disimpan dalam jagka waktu yang panjang akan mudah dilupakan oleh siswa. Hal ini akan terjadi jika siswa tidak membuka kembali bahan belajar yang telah diberikan oleh seorang guru.
Ø Menggali Hasil Belajar Yang Tersimpan
Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Dalam hal baru maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali atau mengaitkannya dengan bahan lama. Dalam hal pesan lama maka siswa akan memanggil atau membangkitkan kembalipesan dan pengalaman lama untuk suatu unjuk hasil belajar.
Ø Kemampuan Berprestasi
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan puncak suatu proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan hasil belajar yang telah lama ia lakukan. Siswa menunjukan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau menstransfer hasil belajar. Dari pengalaman sehari-hari di sekolah diketahui bahwa ada sebagian siswa tidak mampu berprestasi dengan baik.
Ø Rasa Percaya Diri Siswa
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan
Ø Intelegensi Dan Keberhasilan Belajar
Intelegensi merupakan suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi actual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari.
Ø Kebiasaan Belajar
Kebiasaan-kebiasaan belajar siswa akan mempengaruhi kemampunanya dalam berlatih danmenguasai materi yang telah disampaikan oleh guru.
Ø Cita-Cita Siswa
Cita-cita sebagai motivasi intrinsic perlu didikan. Didikan memiliki cita-cita harus ditanamkan sejak mulai kecil. Cita-cita merupakan harapan besar bagi siswa sehingga siswa selalu termotivasi untuk belajar dengan serius demi menggapai cita-cita tersebut. Dengan mengaitkan pemilikan cita-cita dengan kemampuan berprestasi maka siswa diharapkan berani bereksplorasi sesuai dengan kemampuannya sendiri.
2.Faktor-Faktor Ekstern Belajar
Proses belajar didorong oleh motivasi intrinsic siswa. Disamping itu proses belajar juga dapat terjadi, atau menjadi bertambah kuat, bila didorong oleh lingkungan siswa. Dengan kata lain aktifitas belajar dapat meningkat bila program pembelajaran disusun dengan baik. Program pembelajaran sebagai rekayasa pendidikan guru di sekolah merupakan factor eksternal belajar. Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa factor eksternal yang berpengaruh pada aktifias belajar. Faktor-fsktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut:
Ø Guru Sebagai Pembina Siswa Belajar
Guru adalah pengajar yang mendidik . Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik pemuda generasi bangsanya. Guru yang mengajar siswa adalah seorang pribadi yang tumbuh menjadi penyandang profesi bidang studi tertentu. Sebagai seorang pribadi ia juga mengembangkan diri menjadi pribadi utuh
Ø Prasarana Dan Sarana Pembelajaran
Prasarana pembelajaran meliputi sarana olahraga, gedung sekolah ruang belajar, tempat ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olahraga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah dan berbagai media pengajaran yang lain. Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik.
Ø Kebijakan Penilaian
Kegiatan penilaian merupakan proses belajar mencapai puncaknya pada hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja tersebut maka proses belajar berhenti untuk sementara. Dan terjadilah penilaian. Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. Pelaku aktif dalam belajar adalah siswa. Pelaku aktif dalam pembelajaran adalah guru.
Ø Lingkungan Sosial Siswa Di Sekolah
Tiap siswa dalam lingkunga sosial memiliki kedudukan, peranan dan tanggung jawab sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi pergaulan seperti hubungan sosial tertentu. Dalam kehidupan tersebut terjadi hubungan akrab kerjasama, kerja berkoprasi, berkompetisi, bersaing, konflik atau perkelahian
Ø Kurikulum Sekolah
Kurikulum yang diberlakukan di sekolahadalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah, atau yayasan pendidikan. Kurikulum disusun berdasarkan tuntutan kemajuan masyrakat.
4).Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Masalah Belajar
Kesulitan belajar ini merupakan suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis pernyataan ( manifestasi ). Karena guru bertanggung jawab terhadap proses belajar-mengajar, maka ia seharusnya memahami manifestasi gejala-gejala kesulitan belajar. Pemahaman ini merupakan dasar dalam usaha memberikan bantuan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.Pada dasarnya dari setiap jenis-jenis masalah, khususnya dalam masalah belajar murid di SD, cenderung bersumber dari faktor-faktor yang melatarbelakanginya ( penyebabnya ). Seorang guru setelah mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar serta jenis masalah apa yang dihadapinya. Selanjutnya guru dapat melaksanakan tahap berikutnya, yaitu mencari sebab-sebab terjadinya masalah yang dialami murid dalam belajar. Meskipun seorang guru tidak mudah menentukan sebab-sebab terjadi masalah yang sesungguhnya, karena masalah belajar cenderung sangat kompleks.
1.Faktor-faktor Internal ( faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri ), antara lain:
Faktor Eksternal ( faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ), yaitu berasal dari
1). Sekolah, antara lain :
Sifat kurikulum yang kurang fleksibel. Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru). Metode mengajar yang kurang memadai. Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar.
2). Keluarga (rumah), antara lain:
Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis. Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya. Keadaan ekonomi.
4.Murid yang mengalami masalah belajar, dapat di identifikasikan melalui tes hasil belajar, tes kemapuan dasar, skla pengungkapan sikap dan hasil belajar.
1. Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar adalah alat yang disusun untuk mengungkapkan sejauh mana murid telah mencapai tujuan-tujuan pengajaran yang ditetapkan sebelumnya murid-murid dikatakan telah mencapai tujuan pengajaran apabila dia telah menguasai sebagian besar materi yang berhubungan dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan
2. Tes Kemapuan Dasar
Setiap murid mempunyai kecerdasan atau kemampuan dasar. Tingkat kemampuan ini biasanya diukur atau diungkapkan dengan menggunakan tes kecerdasan yang sudah baku.
4. Skala sikap dan kebiasaan Belajar
Sikap dan kebiasaan belajar merupakan salah satu faktor yang penting dalam belajar. Sebagian dari hasil belajar, dtentukan oleh sikap dan kebiasaan yang dilakukan oleh murid dalam belajar. Kebiasaan belajar menunjuk pada bentuk dan pola perilaku yang dilakukan terus menerus oleh murid dalam belajar.
TUGAS (7)
HUBUNGAN ALAM DENGAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Belajar dari alam dapat diartikan secara sederhana adalah menjadikan alam sebagai sumber, media dan sarana belajar untuk memetik ilmu pengetahuan. Alam adalah ruang memiliki karakteristik geografis yang luas, kaya dan variatif. Sekolah yang berada di daerah pantai, pertanian dan hutan tentu memiliki keberagaman dalam belajar dari alam.
Dalam metode belajar konvensional, ruang kelas merupakan tempat yang sering dan biasa digunakan untuk melakukan proses belajar-mengajar. Hal tersebut memang tidak salah, tetapi sedikit melupakan ”kelas’ yang memiliki nilai lebih, yakni alam.
Alam sebagai subjek selalu setia memberikan aneka pesan dan informasi yang berharga kepada subjek yang lain yaitu manusia. Namun, manusia memiliki keterbatasan, yang berdampak pada tersumbatnya manusia dalam menangkap pesan dan informasi yang disampaikan oleh alam. Ketersumbatan komunikasi ini mengakibatkan alam murka, seperti terjadinya banjir besar yang berulang-ulang. Kejadian Ini menandakan manusia tidak memahami kehendak alam. Manusia memanfaatkan alam dengan cara-cara yang ilegal, dengan cara menggunduli pohon-pohon nan indah dan melakukan penebangan liar. Akibatnya adalah alam menjadi murka dengan munculnya aneka bencana di mana-mana,. Bahkan akhir-akhir ini dunia digegerkan dengan temuan pemanasan global yang siap menghancurkan planet bumi dalam beberapa tahun ke depan. Semua ini akibat ulah tangan manusia yang membuat alam murka. Padahal alam diciptakan untuk dicintai, karena dengan mencintai alam itu sebagai tanda wujud rasa terima kasih sekaligus sebagai rasa cinta makhluk kepada sang Khalik. Dalam mencintai alam berarti memelihara dan menjaganya dari kehancuran, tidak malah menghancurkannya.
Manusia sebagai mikrokosmos merupakan bagian dari alam sekaligus sebagai peneliti, pengamat dan pengelola alam. Manusia memiliki keterkaitan dengan alam dalam menjalani proses kesejarahannya. Hubungan manusia dengan alam bukan sekedar hubungan dalam perspektif material saja, tapi lebih dari itu di antara keduanya terdapat rasa saling mencintai. Hal ini terbukti ketika manusia merindukan tempat kelahirannya ketika dia merantau di negeri lain. Dalam teori sosiologi hubungan manusia dengan manusia yang lain merupakan suatu keharusan atau tuntutan yang mesti dilakukan karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa yang lain, termasuk dengan alam sekitarnya.
Dalam proses belajar adakalanya memerlukan seorang pembimbing dalam hal ini katakanlah guru, proses belajar seperti ini biasanya dilaksanakan oleh lembaga-lembaga seperti sekolah, kursus dan lain sebagainya. Adakalanya tanpa membutuhkan pembimbing dalam hal ini belajar mandiri seperti membaca dan merenung untuk mendapatkan pelajaran, ilmu dan karya yang baik
Alam merupakan salah satu media pembelajaran potensial yang saat ini hampir dilupakan oleh para praktisi pendidik. Mereka kurang menyadari kalau alam sangat bagus digunakan sebagai tempat untuk melakukan proses belajar. Belajar dari alam bukan berarti kita hanya sibuk memperhatikan gejala-gejala yang ditimbulkan oleh alam. Atau mengamati apa saja yang dihasilkan oleh alam. Belajar dari alam adalah alam digunakan sebagai tempat untuk melakukan proses belajar mengajar, dan apa yang bisa kita gunakan dari alam sebagai alat peraga atau pendukung dalam proses belajar. Agar siswa tidak hanya memahami materi yang diberikan oleh seorang guru sebatas pada alam ide, tetapi juga bisa dipelajari secara empiris.
Dalam pelajaran biologi misalnya, siswa bisa belajar tentang jenis-jenis unggas dan bagaimana cara merawat unggas tersebut. Untuk penggalian lebih dalam tentang hal ini, siswa bisa melakukan interaksi atau wawancara dengan pemelihara unggas. Bagaimana pakannya, cara merawat unggas yang baik, apa yang harus dihindari agar unggas bisa tumbuh dengan sehat. Karena secara praktik, pemelihara unggas lebih paham menangani unggas daripada seorang guru yang sekedar tahu dari buku.
Kegiatan belajar di alam disesuaikan dengan alokasi waktu jam efektif yang disediakan di alam sejam, seminggu, sebulan atau semusim misalnya. Pembelajaran ini didampingi oleh guru matapelajaran terpadu tersebut. Belajar di alam mengandaikan kesiapan serta kemampuan guru dan manajemen sekolah yang memadai untuk mendampingi pembelajaran siswa di alam.
Kegiatan belajar seperti ini untuk me-refresh para pelajar untuk melatih daya intelejensi pelajar dalam menyerap pesan yang disampaikan oleh alam. Mudah-mudahan dengan kegiatan belajar seperti ini bisa menghasilkan para pelajar yang mengerti dan mengetahui keadaan alamnya sehingga para pelajar bisa beradaptasi, mendayagunakan dan memelihara dengan baik pada nuansa alam lokal.
TUGAS (8)
PENDIDIKAN KARAKTER
Pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang belangsung dalam segala lingkungandan sepanjang hidup ( Drs. Arif S Sadiman. M.sc ).
Pedidikan adalah ujung tombak suatu negara atau majunya negara sangat tergantung kondisi pendidikannya. Semakin berkembang pendidikan suatu negara , maka semakin besar dan majulah negara tersebut. Negara akan maju dan berkembang bila sektor pendidikan sebagai kunci pembangunanmenjadi skala prioritas. ( Yayasan Obor Indonesia . Jakarta, 2006 karangsn Drs. H. Isjoni. M. Si ).
Pengertian Karakter
Karakter Menurut bahasa karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang individu karena itu jika. Pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat di ketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi. Kondosi tertentu. (Rhonda Byme. The Secret, Jakarta. PT Gramedia.2007).
Pendidikan Karakter adalah: Pendidikan memberikan playanan, pelatihan pendidikan karakter bagi para pendidik ( Yayasan, Stat Direksi. Guru dan Tenaga Kependidikan Serta Siswa).
Pendidikan karakter adalah merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter skepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Menurut Nisbet, setiap pemahaman pendidikan harus bisa meleti 4 tahap ujian dalam prinsip di bawah ini sebelum di terima dalam pendidikan :
1).Petambahan beban kerja, artinya pembahasan dan eksprimen harus sudah di fikirkan jauh sebelumnya agar bisa menggantikan hal yang sudah usang. Bukan pada waktu krisis sedang menimpa, baru sibuk mencari penggantinya.
2).Kehilangan kepercayaan. Guru harus mempersiapkan diri dengan mempertinggi keahlian dalam rangka menerima dan mengembangkan ide-ide baru sehingga tidak langsung dan berdiam diri.
3).Masa kacau adalah Sebelumnya arah pembaharuan yang di serap jelas tujuannya. Tapi dalam hal masih dalam batas batas yang dapat di tanggung oleh para pengajar.
Faktor – faktor yang mesti di perhatikan dalam pembaharuan pendidikan adalah:
1). Guru
2) Siswa
3) Fasilitas
4) Program / Tujuan atau Rencana
5) Kurikulum
Apabila seseorang murid mendapatkan nilai rendah maka guru dapat merundingkannya dengan pihak pembimbing untuk memperoleh secara khusus.
Ada beberapa macam peranan Guru adalah:
1). Guru sebagai pembimbing peranan dalam modul adalah : sebagi pembimbing ia bukan satu-satunya penyampai informasi ia juga bukan penceramah lebar. Dalam proses belajar mengajarnya ia harus berada di tengah-tengah anak untuk memberikan dorongan. Tetapi berfungsi sebagai pembuka jalan pemecahan masalah.
2). Guru sebagai pengatur lingkungan. Penata belajar lingkungan yang relevan dengan tujuan membawa dampak belajar yang positif.
3). Guru sebagai partisipan. Ia berfungsi sebagai peserta ajar yang baik. Ia berfungsi juga sebagai pembuka jalan pemecahan masalah, ia berperan sebagai dalam diskusi dan pemberi arah belajar. ( Drs. Cice Wijaya, Drs. Djaja Djadjuri, drs Hatrabani Rusyan : Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan dan Pengajaran).
Karateristik Khusus :
Tujuan Pendidikan Karakter bermaksud untuk membentuk anak – anak dengan karateristik sebagai berikut :
1). Membentuk dan membangun karakter anak yang mempunyai intelektualitas dan kematangan emosi yang di bingkai dengan nilai-nilai ruhiyah.
2). Membentuk anak mengembangkan kecerdasan yang optimal dalam aspek yang kognitif, emosi oral, dan spiritual ( Multipe ).
3). Membantu anak mencapai keseimbangan fungsionalisasi otak kiri dan otak kanan yang di bingkai denngan nilai-nilai ruhiyah.
4). Menguasai Life Skill ( Kecakupan Hidup ). Problem Solfer yang komunikator yang efektif. Mudah beradaptasi mampu menghadapi tantangan berani mengambil resiko.
Dalam pendidikan karakter, Likona ( 1992 ). Menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik yaitu ; Moral Knowning atau pengetahuan tentang moral. Moral Feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan bermoral. Hal ini diperlukan agar siswa di didk mampu memahami, merasakan, mengerjakan sekaligus nilai0nilai.
1). Moral Knowning adalah Hal yang penting untuk di ajarkan.
2). Moral Feeling adalah aspek yang lain yang harus ditanamkan pada anak – anak yang merupakan sumber dari energi manusia untuk bertolaksesuai dengan prinsip-prinsip moral.
3). Moral Action adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat di wujudkan menjadi tindakan nyata. Perbuatan atau tindakan moral ini merupakan hasil dari dua komponen lainnya. ( Rohand Byne).
Karateristik atau ciri-ciri khas yang di pakai dalam proses belajar mengajar. Dalam pendidikan adalah :
1).Media Gravis / Media Visual
Media gravis di antaranya :
Media Audio di antaranya :
Media Massa di antaranya ;
( Radja Madjha Harja, revisi buku Perguruan tinggi Pt Raja Grafindo Persada.).
Penidikan Karakter
1.Karakter adalah perilaku yang di landaskan oleh nilai-nilai yang berdasarkan norma agama kebudayaan atau konstitusi, adat istiadat, dan estetika.
2.Pendidikan Karakter
Upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil.
3.Tujuan Pendidika karakter
Meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah melalui pembentukan karakter peserta didik, terpadu dan seimbang. Sesuai dengan standar kompenten lulusan.
Sasarannya adalah :
1). Seluruh SD, SMP, di Indonesia
2). Semua warga Sekolah, terutama para peserta didik sebagai peserta didik sebagai prioritas utama.
3) Pendidik berperan sebagai teladan ( Tutwuri Handayani )
Nilai karakter Dalam Hubungan Manusia dengan Tuhan
1) Religius
Nilai Karakter Dalam hubungannya dengan diri sendiri.
1. Kejujuran
2. Kecerdasan
3. Rasa Tanggung Jawab
4. Kebersihan dan Kesehatan
5. Kedisiplinan
6. Berfikir Logis, Kritis, Kreatif, Inovatif
7. Ketangguhan
8. Keingintahuan
9. Cinta Ilmu
10. Rasa Percaya Diri
11. Kemandirian
12. Keberanian Mengambil Resiko
13. Berorientasi Pada Tindakan
14. Jiwa Kepemimpinan
15. Kerja Keras
Nilai Karakter Dalam Hubungan Dengan Manusia.
1. Tolong Menolong
2. Kesantunan
3. Kesadaran akan hak dan kewajiban diri dan orang lain.
4. Kepatuhan pada aturan – aturan Sosial
5. Menghargai karya dan prestasi orang lain
6. Demokrasi
Nilai Krakter Dalam Hubungan Manusia dengan Lingkungan
1. Nasionalisme
2. Menghargai keberagaman
Nilai – Nilai Basis Pengembangan Karakter
1. Religius
2. Kejujuran
3. Kecerdasan
4. Tanggung Jawab
5. Kebersihan dan Kesehatan
6. Kedisiplinan
7. Tolong Menolong
8. Berfikir Logis kritis, Kreatif dan Inovatif.
( Kemendiknas dan Kementrian Ri 2011.Peningkatan Manajemen Melalui Penguatan Tata Kelola dan akuntabilitas di Sekolah /Madrasah. Jakarta : Negara ).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar