Kamis, 22 Desember 2011

Karya Tulis Ilmiah


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bahasa adalah sistem lambang yang berwujud bunyi.Lambang adalah suatu pengertian .Lambang-lambang bunyi bahasa yang bermakna itu di dalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frase, klausa, kalimatdan wacana.Semua itu mempunyai makna.
Sebagai alat komunikasi verbal bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbiter. Maksudnya, tidak berhubungan wajib antara lambang sebagai  hal yang menandai yang berwujud kata atau leksem dengan benda atau konsep yang ditandai,  yaitu referen dari kata atau leksem tersebut. Oleh karna itu, misalnya kita dapat menjelaskan mengapa binatang buas yang biasa di piara di rumah dan seperti harimau dalam ukuran kecil disebut dalam bahasa Indonesia.
Kearbiteran lambang bahasa seperti di atas menyebapkan orang, dalam sejarah linguistik, agak menelantarkan peneletian mengenai makna bila dibandingkan dengan penelitian di bidang morfologi dan sintaksis. Makna sebagai objek studi semantik, sangat tidak jelas strukturnya jelas sehingga mudah dianalisis. Aliran linguistik struktural yang menganut paham behaviorisme setiap data keilmuan harus bisa diamati secara empiris, malah berpandangan bahwa semantic (makna) bukan merupakan bagian sentral melainkan periferal dari bahasa ( Hockett 1958).
Namun, sejak tahun enam puluhan studi mengenai makna ini menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari studi linguistik lainnya. Mengapa ? Karena orang mulai menyadari bahwa kegiatan berbahasa sesungguhnya adalah kegiatan mengekpresikan lambang-lambang bahasa tersebut untuk menyampaikan makna-makna yang ada pada lambang tersebut, kepada lawan bicaranya (dalam komunikasi lisan) atau pembacanya (dalam komunnikasi tulis). Jadi, pengetahuan akan adanya hubungan antara lambang atau satuan bahasa, dengan maknanya sangat diperlukan dalam berkomunikasi dengan bahasa itu.



















1.1  LATAR BELAKANG MASALAH
Semantik merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu kebahasaan. Bahasa indonesia sebagai Semantik merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji makna. Dari segi sejarah ilmu semantik (barat), semantik merupakan satu cabang kajian falsafah yang kemudiannya diangkat oleh disiplin linguistik sebagai salah satu daripada komponen bahasa yang utama selain sintaksis, morfologi dan fonologi. Ada yang merasakan bahawa kajian semantik seharusnya menjadi fokus utama dalam linguistik kerana peranan utama bahasa adalah untuk mengungkapkan sesuatu yang bermakna. Dalam ilmu linguistik, terdapat beberapa pendekatan dalam kajian semantik seperti semantik struktural, semantik berasaskan kebenaran, semantik formal dan juga semantik kognitif.
Setiap pendekatan mempunyai beberapa teori. Secara umumnya, semantik struktural mengkaji makna sebagai satu sistem dalaman bahasa. Semantik bersyaratkan kebenaran (truth-conditional semantics) mengaitkan makna dengan satu kebenaran sesuatu proposisi Semantik berasaskan kebenaran sering dikaitkan dengan semantik formal yang mengambil pendekatan menghuraikan makna secara formal dan logikal dengan menggunakan perlambangan operasi matematikal.









1.2 TUJUAN PENULISAN
1. Untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah menulis yang diberikan oleh Dosen
2. Sebagai calon pendidik yang perofesional kita di harapkan megetahui terlebih dahulu tentang seluk beluk bahasa Indonesia. Dan pembagian-pembagiannya.
3. Agar lebih mendalami dan mengetahui tentang semantik
4. Untuk melatih kita dalam penulisan karya ilmiah
 5. Untuk memotivasi guru atau calon pendidik terutama jurusan Bahasa Indonesia untuk lebih memahami perkembangan bahasa agar menjadi guru yang profesional dan handal.
6. Untuk mengetahui dan memahami pengertian semantik.
7.      Didalam ruang lingkup kampus Universitas Islam Riau umumnya dan pada jurusan Bahasa Indonesia khususnya, penulis juga sangat mengharapkan bahasa indonesia adalah bahasa yang harus di gunakan oleh mahasiswa program study Bahasa Indonesia agar Bahasa Indonesia ini tidak selalu diremehkan.









1.3 RUANG LINGKUP
Bahasa merupakan media komunikasi yang paling efektif yang dipergunakan oleh manusia untuk berinteraksi dengan individu lainnya. Bahasa yang digunakan dalam berinteraksi pada keseharian kita sangat bervariasi bentuknya, baik dilihat dari fungsi maupun bentuknya. Tataran penggunaan bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat dalam berinteraksi tentunya tidak lepas dari penggunaan kata atau kalimat yang bermuara pada makna, yang merupakan ruang lingkup dari semantik.
Dalam berbagai kepustakaan linguistik, semantik disebutkan sebagai bidang studi linguistik, semantik disebutkan sebagai bidang studi linguistik yang objek penelitiannya adalah makna bahasa. Status tataran semantik tidak sama dengan status tataran fonologi, morfologi, dan tataran sintaksis, sebab secara hirarki satuan-satuan bahasa saling bangun membangun, wacana di bangun oleh kalimat, satuan kalimat dibangun oleh klausa, satuan klausa dibangun oleh frasa, satuan frasa di bangun oleh kata, satuan kata dibangun oleh morfem, satuan morfem dibangun oleh fonem, serta satuan fonem dibangun oleh fon atau bunyi. Semantik dengan objeknya makna, berada pada semua tataran fonologi, morfologi dan sintaksis.      







1.4 KERANGKA TEORI
Beberapa Teori tentang Semantik dan Menurut Para Ahli :
Sudah banayk teori tentang semantic yang diperkenalkan para ahli. Dalam wawasan filsafat ada di sebut semantik filosofi, dan dibedakan teori naturalism, dan dan nominalisme. Pendekatan filosofi terhadap makana biasanya dihubungkan dengan asal-usul simbol verbal dan kebermaknaannya berdasarkan kebenaran dan kesesuaian logis. Sebaliknya semantic linguistic menekuni arti lebih berdasarkan pada hubungan antara tingkah laku ujaran dengan lingkungan fisik dan intelektual si pembicara.
Beberapa linguis menekankan hubungan yang erat sekali anatar struktur dalam bahasa dengan pembicara mendasarkan penyimpulan alam sekitarnya kepada struktur dalam itu. Ada pula yang menerangkan apakah itu hubungan ujaran dengan situasi dan kejadian alam sekeliling yang tak terhingga adanya . Karena dengan demikian, ada yang membebaskan studi semantik dari analisis formalnay. Namun sungguh tidak mungkin membahas ujaran sebagai bagian dari analisis linguistic. Terus terang saja semantic ini cabang linguistic yang paling tertinggal bila di bandingkan dengan cabang lainnya. Ini mudah di mengerti, karena dalam membicarakan makna banayak sekali persoalan yang sulit untuk di pecahkan. Kebanyakan linguis tidak menyelidiki bagaimana kata-kata itu tumbuh dalam pikiran. Mereka lebih meminati bagaimana gagasan-gagasan itu diungkapakan dalam wujud kombinasi kata.
Untuk menghadapi kesulitan ini telah disusunlah berbagi teori antara lain :
(a). Conceptual Theory
Menurut teori ini makna adalah mental image si pembicara dari subjek yang di bicarakan.
(b). Reference atau Correspondence Theory
Menurut teori ini, Makna adalah hubungan langsung antara makna dan simbo-simbol acuannya.
(c). Contextual Theory
Teori ini berusaha menerangkan makna kata-kata dengan perantaraan sanding kata( Colloction) yang bisa di temukan. Sebagai contoh kata tentara. Kata ini di jelaskan dengan perantaraan sanding kata yang umum di pakai atau berkaitan dengan kata tentara itu. Seperti perang, dan lain-lain dengan kata ini kosa kata tentara memang lebih erat dibandingkan dengan kosa kata seperti rujak cuka. Dan sebangsanya contoh ini membentuk yang di sebut colocational sets atau perangkat sanding kata. Kesulitan dalam teori ini adalah tidak sistematik mengenai data. Dengan demikian collacation ini di rasa tidak merupakan jajahan linguistic. Tetapi lebih cocok dijelajahi para ahli psikologi dan retorika.
(d). Field Theory
Teori ini menafsirkan kaitan makna antra kata atau anggota-anggota  dalam kesatuan bidang semantik tertntu.
(e). Componetional Analysis Theory
Teori ini mempelajari bagaimana seperangkat kata atau istilah terbentuk dari ciri-ciri semantic umum. Atau dengan kata lain menganalisis seperangkat kat-kata yang berhubungan ke dalam komponen laki-laki, ayah, dan sebagainya. Dengan analisis ini kita dapat mempelajari bagaimana para penutur bahasa menggunakan seperangkat kosakata untuk mengklasifikasikan obyek dengan mengacu kepada parameter tertentu dari makna.
(f). Combinational Semantics atau semotatias
            Teori ini menyelidiki arti leksis dari butir kata juga penyusunan sintaksisnya.
(g). Generative Semantics
         Teori ini mencoba menyimpulkan makna-makna dari kalimat dan lalu mentransformasikan makna – makna ini ke dalam ujaran / klimat nyata ( performance ).
         Pandangan yang bermacam-macam dari para ahli mejadikan para ahli memiliki perbedaan dalam mengartikan semantik. Pengertian semantik yang berbeda-beda tersebut justru diharapkan dapat mngembangkan disiplin ilmu linguistik yang amat luas cakupannya.
1. Charles Morrist
Mengemukakan bahwa semantik menelaah “hubungan-hubungan tanda-tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut”.
2. J.W.M Verhaar; 1981:9
Mengemukakan bahwa semantik (inggris: semantics) berarti teori makna atau teori arti, yakni cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti.
3. Lehrer; 1974: 1
Semantik adalah studi tentang makna. Bagi Lehrer, semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas, karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat dan antropologi.
4. Kambartel (dalam Bauerk, 1979: 195)
Semantik mengasumsikan bahwa bahasa terdiri dari struktur yang menampakan makna apabila dihubungkan dengan objek dalam pengalaman dunia manusia.
5. Ensiklopedia britanika (Encyclopedia Britanica, vol.20, 1996: 313)
Semantik adalah studi tentang hubungan antara suatu pembeda linguistik dengan hubungan proses mental atau simbol dalam aktifitas bicara.
6. Dr. Mansoer pateda
Semantik adalah sub disiplin linguistik yang membicarakan makna.
7. Drs. Abdul Chaer ( 2002:2)”
Semantik adalah ilmu tentang makna atau arti. Yaitu tataran dari tiga tataran analisis bahasa : fonologi, gramatik, dan semantik
8. Drs. Guntur Tarigan (2009:7)
Semantik adalah telaah makna. Semantik menelaah makna lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna.
9. Parera ( 1994:14 )
Semantik adalah suatu studi dan analisis tentang makna-makna linguistik.







1.5  PEMBAHASAN
Pengertian Semantik
Chaer (2002:2). Kata Semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris : semantic) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti “ tanda atau “ lambang “. Kata kerjanya adalah semaino yang berarti “ menadai “ atau “ melambangkan “. Yang di malsud dengan tanda atau lambang di sini sebagai padanan kata sema itu adalah tanda linguistic (Prancis : signe linguistique) seperti dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure ( 1996), yaitu yang terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud bunyi bentuk-bentuk bunyi bahasa dan (2) komponen yang di artikan atau makna dari komponen yang pertama itu. Kedua komponen ini adalah merupakan tanda atau lambang, sedangkan yang ditandai atau dilambanginya adalah sesuatu yang berada di luar bahasa yang lazim disebut referen atau hal yang di tunjuk.
Chaer (2002:2) “Kata semantik ini kemudian disepakati sebagai istilah yang di gunakan untuk untuk bidang linguistic dengan hal-hal yang di tandinya. Atau dengan kata lain, bidang studi dalam linguistic yang mempelajari makkna atau arti dalam bahasa. Oleh karna itu, kata semantic dapat di artikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisa bahasa : fonologi, gramatik, dan semantic.
Sejalan dengan itu Tarigan (2009:7) “Semantik adalah telaah makna” Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna. Hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat, karena itu semantic mencakup makna-makna kata. Perkembangan dan perubahannya.
Parera (1994:14) “ Semantik adalah suatu studi dan analisis tentang makna-makna linguistik” Menurut Tarigan (2009:2) “Semantik adalah telaah mengenai makna” Semantik menelaah hubungan-hubungan, tanda-tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut,,
Chomsky (1965) Mengemukakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa ( Dua komponaen lain adalah fomologi dan sintaksis), dan makkna kalimat sangat ditentukan oleh komponen semantik ini.
1.5.1        Klasifikasi Semantik
Bahasa di gunakan untuk berbagai keperluan dan kegiatan dalam kehidupan dan masyarakat, Maka makna bahasa itu pun menjadi bermacam-macam pula bila di lihat dari segi pandang yang berbeda. Adapun jenis-jenis makna yang dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain.
1. Makna Leksikal, Gramatikal Dan Kontesktual
            Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tampa konteks apa pun. Misalnya leksem air bermakna leksikal “ sejenis barang cair yang biasa di gunakan untuk keperluan sehari-hari. Dengan kata lain, makna adalah makna yang sesuai dengan hasil observasi manusia, atau makna apa adanya ( makna yang ada dalam kamus).
            Makna gramatikal akan ada jika terjadi proses gramatikal( afiksasi, reduplikasi, komposisi atau kalimatisasi). Misalnya dalam proses afiksasi. Sepat melahirkan makna gramatikal ”mengenakan atau “memakai sepatu”.
            Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada dalam satu konteks. Misalnya makna kata pergi “dalam kata adik pergi kesekolah”. Makna konteks juga berkenaan dengan situasinnya, yakni waktu dan lingkungan penggunaan bahasa.
2.   Makna Referensial an Non-Referensial
            Sebuah kata atau leksem di sebut bermakna referensial jika ada referensinya, atau acuannya. Kata-kata seperti ayam, hijau, dan gambar. Adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam kehidupan nyata. Berbeda halnya dengan kata-kata dan, dengan dan Karena merupakan kata-kata yang tidak bermakna referensial karena kata-kataini tidak memiliki referensi.
3.   Makna Denotatif dan Makna Konotatif
            Makna denotatife merupakan makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya dimiliki oleh sebuah kata leksem. Misalnya, kta sapi bermakna denotative “sejenis binatang yang di pelihara untuk dimanfaatkan”.
            Makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan”pada makna denotative yang berhubunga dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Misalnya, kata babi, bagi orang Islam atau masyarakat Isalam mempunyai konotasi negatife ada rasa atau perasaan tidak enak mendengar kata babi itu.
            Berkenaan dengan masalah konotasi ini harus diingat bahwa konotasi sebuah kata berbeda antara seseorang dengan orang lain, atau satu daerah dengan daerah lain, atau antara masa dengan masa yang lain.
4. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
Leech (1976) Mengemukakan bahwa makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Misalnya kata rumah memiliki makna konseptual”bangunan tempat tinggal manusia”. Pada dasarnya makna konseptual sama denagn makna leksikal, makna denotative, dan makna referensial.
            Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang ada diluar bahasa. Misalnya, kata melati berasosiasi dengan sesuatu yang suci atau kesician. Makna asosiatif sebenarnya sama dengan lambang atau perlambangan yang digunakan oleh masyarakat bahasa untuk menyatakan kosep lain, yang mempunyai kemiripan dengan sifat.keadaanatau ciri yang ada konsep asal kata atau leksem tersebut. Oleh Leech (1976) makna asosiatif ini mencakup makna konotatif, makna stilistika, makna afektif, dan makna kolokatif.
5. Makna Kata dan Makna Istilah
            Penggunaan kata akan menjadi jelas jika kata itu sudah berada dalam konteks kalimatnya atau situasinya. Kita be,um tahu makna kata pergi sebelum kata itu berada dalam konteksnya (adik pergi kesekolah). Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa makna kata masih bersifat umum, kasar, dan tidak jelas.
            Istilah mempunyai makan pasti, yang jelas, dan tidak meragukan, meskipun tampa konteks kalimat. Oleh sebab itu , makna istilah bebas konteks. Sebuah istilah digunakan dalam bidang keilmuan atau kegiatan tertentu. Misalnya kata tangan dan lengan. Dalam bidang kedokteran kedua kata ini mempunyai makna yang berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai kejari tangan, sedangkan lengan adalh bagian dari pergelangan sampai ke bahu.
6.   Makna Idiom dan Peribahasa
            Idioam adalah satuan ujaran yang maknanya tidak”diramalkan” dari makna unsure-unsurnya, naik secara leksikal maupun secara gramatikal. Misalnya secara gramatikal bentuk menjual rumah bermakna”yang menjual menerima uang dan yang membeli menerima rumahnya”.
            Pada umumnya ada dua macam idiom, yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang semua unsure-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Misalnya membanting tulang, unjuk gigi, dan meja hijau. Idiom sebagian adalah idiom yang sa;ah satu  unsurnya masih meiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya, daftar hitamyang bermakna “ daftar yang memuat nama-nama orang yanga berbuat atau di curigai berbbuat kejahatan”. Kata contoh tersebut memiliki makna leksikalnya.
            Peribahasa memiliki makna yang masih dapat di telusuri dari makna unsure-unsurnya. Karena adanay asosiasi anatara makana asli dengan makna sebagi pribahasa. Misalnya, ‘ sseperti ‘ anjing denagn kucinng” yang bermakna “ dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jka bersua memang selalu berkelahi, tidak pernah damai.
            Idiom pribahasa terdapat pada semua bahasa yang ada di dunia ini, terutama pada bahasa yang penuturnya memiliki kebudayaan tinggi.
1.5.2        Relasi Semantik
            Dalam suatu bahasa, makna kata saling berhubungan, hubungan ini disebut relasi makna. Relasi makna dapat berwujud bermacam-macam, anatara lain.
1.      Homonimi
            Yaitu relasi makna antar kata yang ditulis sama atau dilafalkan sama, tetapi makannya berbeda. Kata-kata yang ditulis sama tetapi berbeda makana disebut homografi. Sedangkan kata-kata yang dilafalkan sama tetapi berbeda makna disebut homofon. Misalnya homograf kata tahu (makanan) yang berhomografi dengan kata tahu (paham). Sedangkan kata yang homofon kata masa (waktu) berhomografi dengan massa (jumlah besar yang menjadi satu kesatuan).
2.      Polisemi
            Polisemi berkaitan dengan kata atau frase yang memiliki beberapa makna yang berhubungan. Hubungan antar makna ini disebut polisemi. Sebuah kata atau satuan ujaran disebut polisemi jika kata utu mempunyai makna lebih dari satu. Misalnya, kata kepala yang setidaknya mempunyai makna (a) bagian tubuh manusia, (b) ketua atau pemimpin, (c) sesuatu yang berbentuk bulat, (d) seuatu berbeda pada sebelah atas.
3.      Sinomini
            Adalah relasi makna antar kata (frase atau lalimat) yang maknanya satu atau mirip. Dalam suatu bahasa jarang ditemukan dua kata yang  bersinimini mutlak. Misalnya, anata kata betul dan kata benar, anatara kata hamil denagan frase “duduk perut” dan antara kalimat adik menendang bola dengan bola ditendang adik.
            Ada beberapa hal yang menyebapkan munculnya kata-kata bersinomini , seperti kata-kata yang berasal dari bahsa daerah, bahasa nasional dan bahasa asing, misalnya penyakit kencing manis dengan diabetes, telpon genggam dengan handphone.
            Sinonim dapat muncul antar kata (frasa atau kalimat) yang berbeda ragam bahasanya, seperti bini (ragam bahasa percakapan secara tidak resmi) dengan istri (ragam resmi). Kata-kata yang mendapat nilai rasa (Konotasi) yang berbeda juga dapat besinomini, seperti partai guram (Perasaan negatife) dengan partai kecil (perasaan netral).
4. Antonimi atau Oposisi
            Antonimi atau oposisi merupakan relasi antar kata yang bertentangan atau berkebalikan makananya. Istilah antonimi digunakan untuk oposisis makna dalam pasangan leksikal bertaraf, seperti panas dengan dingin karena masih ada kata-kata lain, seperti hangat, dan suam-suam kuku.
            Oposisi makna dalam pasangan leksikal tidak bertaraf yang maknanya bertentangan disebut oposisi komplementer, seperti jantan dan betina. Dengan demikian, jika saya mengatakann “Pusu seekor kucing jantan, itu berarti Pusu bukan kucing betina.
            Relasi antar kata ada juga yang maknanya berkelebihan, seperti maknnya berkebalikan, seperti kata suami dengan kata istri “Jika tini istri Tono, Berarti tono suami tina.
5. Hipomini
            Merupakan hubungan semantik antara bentuk ujaran yang maknanya tercakup dalam bentuk ujaran yang lain. Misalnya, kata merpati dan kata burung. Makna merpati tercakup dalam makna kata burung. Merpati adalah burung, tetapi burung tidak hanya merpati.
             Hipomini adalah relasi makna yang berkaitan dengan peliputan makna spesifik dalam makna generic, seperti makna anggrek dalam makna bunga, makna kucing dalam makna biantang, sedangkan kucing, anjing, kambing, dan kuda berhipomini dengan binatang.
6. Metomini
            Adalah relasi makna yang memiliki kemiripan dengan hipomini, karena relasi maknanya bersifat hierarkis, namun tidak menyiratkan dengan relasi yang searah, tetapi relasi makna bagian dengan keseluruhan. Misalnya, atap bermeronimi dengan rumah. Meronini dapat dianalisis dengan bantuan X dalam bagian dari Y.
Disamping itu, kata juga memiliki makna yang berkaitan langsung dengan unsur-unsur di luar bahsa, seperti objek tertentu, situasi percakapan, dan sejarah bahasa. Blanke (1973) menyebut makna ini sebagai makna ekstralingual.

7. Makna Asosiatif
            Merupakan asosiasi yang muncul dalam bentuk seseorang jika mendengar kata tertentu. Asosiasi ini dipengaruhi oleh unsure-unsur psikis, pengetahuan dan pengalaman seseorang. Oleh sebab itu makna asosiatif terutama dikaji bidang psikolinguistik.
            Dalam stu masyarakat bahasa terdapat banyak persamaan makna asosiatif karena pengalaman, Lingkungan, dan latar belakang budaya yang hamper sama. Makna asosiatif berperan penting dalam penyusunan teks iklan, karena bukan hanya makna referensial yang harus ditonjolkan tetapi juga asosiasi yang muncul dalam benak seseorang jika membaca kata-kata yang ada dalam iklan harus dipertimbangkan.
            Maka asosiatif juga memiliki peran penting untuk pemahaman wacana karena makna asosiatif dapat menjadi pengikat makna-makna kata sehingga terbentuk suatu pemahaman wacana. Interpretasi puisi tidak dapat dipisahkan dari makna asosiatif kata-kata yang ada dalam puisi, karena mengenal makna asosiatif akan memudahkan interpretasi puisi.
8. Makna Afektif
            Makna afektif berkaitan dengan perasaan seseorang jika mendengar atau membaca kata tertentu. Perasaan yang muncul dapat positif atau negative. Kata jujur, rendah hati, dan bijaksana menimbulkan makna afektif yang positif sedangkan makna korupsi dan kolusi menimbulkan makna afektif yang negatife.
            Nilai Rasa terhadap kata, atau lazim disebut konotasi, ditentukan oleh makna asosiatif dan makna afektif yang ditimbulkan kata tersebut bagi seseorang. Seperti makna asosiatif, makna afektif yang ditimbulkan tersebut bagi seseorang penyusun teks iklan dan kampanye politik. Misalnya, dalam teks iklan tertera kalimat “the nikmat berkhasiat”. Kata nikmat dan berkhasiat memiliki nilai rasa yang positif, karena kata nikmat dan berkhasiat menimbulkan asosiasi dan perasaan positif.

9. Makna Situatif
            Kata-kata yang mempunyai diektis – “Pragmatik” – seperti pronominal pesona (saya, kamu anda). Pronomina petunjuk (ini, itu), Nomina yang merupakan keterangan waktu (lusa, minggu depan) dan keterangan tempat (disini, disana, disitu), makna referensialnya terkait dengan situasi pembicaraan. Perbedaan makna referensial ini dan itu atau di sana dan di situ bergantung pada konteks pembicaraan sehingga kata-kata yang memiliki fungsi deikstis terikat dengan makna situatif.
10.  Makna etimologis
            Makna etimilogis berkaitan dengan asal usul kata dan perubahan makna kta dilihat dari aspek sejarah kata. Makna etimologis suatu kata mencerminkan perubahan kata yang terjadi dengan kata tertentu. Melalui perubahan makna kata, dapat ditelusuri perubahan nilai, norma, keadaan sosial politi, dan keadaan ekonomi suatu masyarakat.
            Perubahan makna kta dapat meluas atau menyempit, Misalnya, kata sarjana yang dalam bahasa sansakerta bermakna “orang-orang yang cakap, cerdik cendikia”. Kini dalam bahasa Indonesia maknanya menyempit menjadi “gelar strata satu yang dicapai oleh seseorang yang telah menamatkan pendidikan tingkat akhir di perguruan tinggi.
            Nilai makna suatu kata juga dapat berubah dari negatife menjadi positif yang disebut ameliorasi, atau sebaliknya dari positif menjadi negative (penyorasi0. Misalnya, kata perempuan yang semula bermakna” tempat berguru”. Berubah menjadi negatife karena sering dikaitkan dengan wanita tunasila (mengalami penyorasi). Dewasa inni kata perempuan kembali bermakna positif (ameliorasi) karena sering dimunculkan dalam kajian gender dan kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki.

1.5.3     Analisis Makna
            Pengetahuan dan pengalaman manusia sebagai sumber informasi disimpan dalam otak sebagai kesatuan mental yang disebut konsep. Makna dipengaruhi oleh konsep dan secara tidak langsung dipengaruhi oleh objeknya.
            Makna merupakan kesatuan pengetahuan dan pengalaman yang terkait dengan lambang bahasa yang mewakilinya. Makna terdiri dari komponen makna. Misalnya makna kata wanita terrbentuk dari komponen makna manusia, dewasa, perempuan. Bagaimanakah cara menganalisis makna suatu leksem.
            Komponen makna tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan dan pengalaman serta situasi seseorang. Melalui kerangka kalimat “ X………….. tetapi bukanlah/tidak………” dapat ditentukan komponen makna suatu kata. Misalnya, Untuk mencari komponen makna kata wanita dapat dilakukan tes substansi sebagai berikut : X seorang wanita tetapi bukan/tidak…….
v  Manusia
v  (orang dewasa canti)
v  Langsing
v  Perempuan
            X seorang wanita, tetapi bukan*manusia, bukan (orang) dewasa dan bukan*perempuan tidak berterima secara sistematis. Dan itu berarti komponen makna kata wanita. X seorang wanita tetapi tidak cantik dan X seorang wanita tidak langsing tetapi tidak cantik dan X seorang wanita tetapi tidak langsing berterima secara sistematis. Dan itu berarti komponen makna cantik dan langsing tidak merupakan komponen pada wanita.
      `                 Analisa makna selain dilakukan dengan bantuan analisis komponen dapat juga dilakukan melalui protife. Menurut pendekatan ini, makna kata tidak dapat diuraikan dalam bentuk komponen semantic karena makna kata batasnya kabur dan keanggotaan dalam satu kategori tidak ditentukan oleh ada tidaknya komponen-komponen semantic tertentu, tetapi tergantung pada jarak prototife.
            Prototife adalah “ referensi mental mewakili contoh terbaik suatu konsep tertentu” Misalnya, konsep mobil mewakili mobil sedan yang merupakan prototife konsep mibil. Untuk menentukan apakah suatu kata masih termasuk kategori mobil atau tidak. Kata itu tidak harus dibandingkan dengan prototife mobil. Misalnya, bus secara pasti dapat dimasukkan dalam kategori mobil, tetapi bajai lebih sulit dimasukkan dalam ketegori mobil, karena jarak bajai dengan mobil sedan lebih jauh dari bus dengan mobil sedan yang memiliki lebih banyak persamaan.
            Analisis makna dengan bantuan prototife memungkinkan penyusunan kosakata yang termasuk dalam satu medan makna berasal dari ranah tertentu. Pembentukan prototife dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya dan lingkungan suatu masyarakat bahsa, misalnya prototife ranah buah-buahan dalam masyarakat Indonesia adalah pisang, sedangkan masyarakat bahasa yang tinggal di Eropa adalah apel.








1.6 HASIL PENULISAN
Dari hasil penulisan saya tampak di sini bahwa bahasa tidak saja diperlukan oleh manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lain, melainkan bahasa diperlukan juga oleh manusia untuk berkomunikasi dengan mesin. Bahkan lebih dari itu. Di dalam banyak hal, kita mulai menemukan mesin yang berkomunikasi dengan mesin lain melalui bahasa. Kita juga mulai menemukan mesin yang berkomunikasi dengan manusia melalui bahasa. Dengan demikian, bahasa juga diperlukan oleh mesin untuk berkomunikasi dengan mesin lain dan dengan manusia.
Kita sebagai mahasiswa program studi Bahasa Indonesia dan calon guru sangat di harapkan sekali untuk mempelajari dan mengetahui tentang semantik, karna semantik disini sangat behubungan dengan bahasa. Dan mepelajari tentang makna bahasa. Dan para ahli juga mengemukakan pengertian semantik yang berbeda-beda tapi intinya tetap sama. Sifat kemajemukan bahasa sering menimbulkan kekacauan semantik, misalnya dua oarng sedang berkomunikasi menggunakan kata yang sama untuk pengertian yang berbeda, atau sebaliknya.
Jadi dari berbagai para ahli tadi dapat di tarik kesimpulan bahwa semantik  sebagai ilmu, memelajari pemaknaan dalam bahasa dan terbatas pada pengalaman manusia. Jadi, secara ontologism semantik membatasi masalah pada pengalaman yang dikajinya hanya pada persoalan yang terdapat didalam ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia. Selain itu semantik membicarakan apa yang ditandai.




PENUTUP
a.   Simpulan
Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada setiap perkataan yang diucapkan. Semantik merupakan salah satu cabang ilmu yang dipelajari dalam studi linguistik. Dalam semantik kita mengenal yang disebut klasifikasi makna, relasi makna, erubahan makna, analisis makna, dan makna pemakaian bahasa. Semantik adalah subdisiplin linguistik yang membicarakan makna yaitu makna kata dan makna kalimat.
 Semantik diartikan sebagai ilmu tentang makna atau arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisis bahasa, yakni: fonologi, gramatika, dan semantik. Semantik hanyalah mengkaji makna atau arti yang berkenan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal dan tidak mengkaji makna yang terdapat dalam bahasa bunga, bahasa warna, dan bahasa prangko, karena hanya merupakan perlambang belaka, yang tidak diturunkan dari tanda-tanda linguistik
 Bahasa sangat penting untuk dipelajari karena kita akan berkmunikasi dengan orang harus menggunakan bahasa.
Semantik merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu kebahasaan. Bahasa indonesia sebagai Semantik merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji makna. Dari segi sejarah ilmu semantik (barat), semantik merupakan satu cabang kajian falsafah yang kemudiannya diangkat oleh disiplin linguistik sebagai salah satu daripada komponen bahasa yang utama selain sintaksis, morfologi dan fonologi. Ada yang merasakan bahawa kajian semantik seharusnya menjadi fokus utama dalam linguistik kerana peranan utama bahasa adalah untuk mengungkapkan sesuatu yang bermakna. Dalam ilmu linguistik terdapat beberapa pendekatan dalam kajian semantik seperti semantik struktural, semantik berasaskan kebenaran, semantik formal dan juga semantik kognitif.

b. Saran
Perbedaan pandangan mengenai pengertian semantik semestinya menjadi motifasi bagi para penuntut ilmu untuk lebih mengembangkan ilmu pengetahuan yang lebih sempurna dan tararah. Didaalam mempelajri semantik pun hendaknya dimengerti dan dipahami secara seksama. Sehingga pembelajar akan mengetahui semantik secara menyeluruh yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
Saran ini ditujukan untuk masyarakat Indonesia pada umumnya dan mahasiswa pada jurusan kebahasaan terutama bahasa Indonesia, hendaklah di zaman yang serba berubah ini kita lebih tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi khususnya dalam bidang bahasa Indonesia. Kita harus melestarikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Perubahan yang terjadi perlu kita cermati dengan baik agar keaslian bahasa Indonesia tetap terjaga.
Demi menghindari pelanggaran hak cipta dan dengans mempertimbamgkan etika dalam penulisan karya ilmiah serta karya ilmiah itu menjadi bernilai dan berbobot, sebaiknya para penulis mengethui kaidah-kaidah mengutip dan penulisan daftar pustaka. Bila terjadi kesalahan dalam penulisan makalah ini saya harapkan keritik dan saran dari para pembaca, untuk penyempurnaan dalam penulisan  makalah untuk kedepannya.







DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Sejarah Melayu. Jakarta, 1952.
Aminuddin. 1998. Semantik Pengantar studi Tentang Makna. Bandung : Sinar Madu
Chaer, Abdul. 2007. Semantik Bahasa Indonesia ( Modul). Jakarta : Universitas Tebuka
Chaer, Abdul. 2003. Linguisik Umum. Jakarta : Rineka Cipta
Chaer, Abdul 2002. Semantik Bahasa Indonesia Jakarta : Rineka Cipta
Djoko Kentjono (ed.) 1982. Dasar-dasar linguistic umum Jakarta : Fakultas Sastra Universitas Indonesia
Faizah, Hasnah. 2008. Mata Kuliah Dasar Umum Bahasa Indonesia. Pekanbaru. Cendikia Insani.
Kridalaksana, Hari Murti. 1991. Masa Lampau Bahasa Indonesia. Yogyakarta : Kanisius









Tidak ada komentar:

Posting Komentar