KATA PENGANTAR
Denman puji syukur kita ucapkan kepada
ALLAH SWT, karena berkat nikmat dan hidayah-Nya, penulis bisa menyelesaikan
tugas kelompok yang pembahasannya secara individu. tugas tentang medan makna
dan komponen makna yang dapat di
selesaikan tepat pada waktunya.
Sholawat dan salam di curahkan kepada
Nabi Muhamad SAW beserta kerabat dan keluarganya yang setia mengorbankan jiwa
raga dan lainya untuk tegaknya syari’ah islam, yang berpangaruh dan bermanfaat
hingga saat ini.
Selanjutnya kami ucapkan terima kasih
kepada Dosen pembimbing. Ibu ROZIAH, M.A
Yang telah memberikan bimbingan, petunjuk, motivasi, dan berbagai kemudahan
lainya. Semoga tugas ini bermanfaat dan menambah pengetahuan penulis..
Telah di sadari bahwa dalam penulisan
ini banyak memiliki kekurangan atau kesalahan, baik dari segi isi, bahasa, dan
lain sebagainya. Untuk itu saran dan kritikan yang sifatnya membangun diri
pembaca maupun dosen pembimbing dengan senang hati penulis ucapkan terima
kasih.
Pekanbaru,
April 2013
Penulis,
EKA ERNITA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa
merupakan alat komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada
setiap perkataan yang diucapkan. Semantik merupakan salah satu cabang ilmu yang
dipelajari dalam studi linguistik. Dalam semantik kita mengenal yang disebut
klasifikasi makna, relasi makna, erubahan makna, analisis makna, dan makna
pemakaian bahasa. Semantik adalah subdisiplin linguistik yang membicarakan
makna yaitu medan makna dan komponen makna
Chaer (2002:2)
“Kata semantik ini kemudian
disepakati sebagai istilah yang di gunakan untuk untuk bidang linguistic dengan
hal-hal yang di tandinya. Atau dengan kata lain, bidang studi dalam linguistic
yang mempelajari makkna atau arti dalam bahasa. Oleh karna itu, kata semantic
dapat di artikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu
dari tiga tataran analisa bahasa : fonologi, gramatik, dan semantic..
Sejalan dengan
itu Tarigan (2009:7) “Semantik adalah telaah makna” Semantik menelaah
lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna. Hubungan makna yang
satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat, karena
itu semantic. mencakup
makna-makna kata. Perkembangan dan perubahannya.
Parera
(1994:14) “ Semantik adalah suatu studi dan analisis tentang makna-makna
linguistik” Menurut Tarigan (2009:2) “Semantik adalah telaah mengenai makna”
Semantik menelaah hubungan-hubungan, tanda-tanda dengan objek-objek yang
merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut,,
Aminuddin (1988) “ Semantik mengandung pengertian studi
tentang makna” dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka
semantic merupakan makna dari bagian linguisti.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA
2.1.1 Pengertian Medan Makna
Harimurti (1982)
menyatakan bahwa medan makna ( semantic field, semantic domain adalah bagian
dari system semantic bahasa yang menggambarkan bagian dari kebudayaan atau
realitas dalam alam semesta tertentu dan yang di realisasikan oleh para
seperangkat unsureleksikal yang maknannya berhubungan. Umpamanya, nama-nama warna
membentuk medan makna tertentu. Begitu perabot rumah tangga, istilah pelayaran,
istilah olahraga, istilah perkerabatan, istilah alat pertukangan dan
sebagainya.
Kata
atau unsur leksikal yang maknanya berhubungan dalam satu bidang tertentu
jumlahnya tidak sama dari satu bahasa dengan bahasa lain sebab berkaitan erat
dengan kemajuan atau situasi budaya yang bersangkutan. Nama – anam dalam bahasa
Indonesia adalah coklat merah, biru , hijau kunimg, dan abu, abu dalam hal ini
menurut fisika adalah bukan sama atau lebih tepat putih adalah segala macam
kumpulan warna, sedangkan hitam adalah tidak sama sekali.
Kata-kata
yang ada dalam medan makna di golongkan menjadi dua yaitu yang termasuk
golongan kolokasi dan golongan set.
Kolokasi berasal
dari bahasa latin colloco yang berarti ada di tempat yang sama dengan menunjuk
kepada hubungan sintagmatik yang terjadi antara kata-kata dan unsure-unsur
leksikal itu. Misalnya pada kalimat tiang layar perahu nelayan itu patah
dihantam badai, lalu perahu itu digulung ombat dan tenggelam bersama isinya.
Kita dapati kata-kata layar perahu nelayan, badai, ombak dan tenggelam yang
merupakan dalam satu kolokasi. Satu tempat atau lingkungan. Jadi jadi kata-kata
yang berkolokasi ditemukan bersama atau berada dalam satu tempat atau lingkungan.
Kata-kata layar, perahu, badai ombak, tenggelam diatas berada dalam lingkungan
dan berbicara mengenai laut.
Dalam pembicaraan tentang jenis
makna ada dua ada juga istilah kolokasi, yakni jenis kolokasi yaitu makna
kolokasi, yang di maksud disini yakni makna berkenaan dengan keterkaitan kata
tersebut dengan kata kolokasi yang merupakan kolokasinya. Sejalan dengan itu (Yenni 2002:12) mengatakan Medan
makna rasa dalam bahasa bali merupakan lokasi atau daerah arti atau maksud rasa
yang dialami oleh tubuh manuasia. (KBBI,1990). Selain itu, dapat pula di
katakan bahwa medan makna rasa ialah seperangkat unsure leksikal yang
menyatakan makna rasa. Konsep rasa adalah tanggapan indra berbagai rangsangan
saraf, tanggapan hati, atau hal-hal lain yang di alami badan atau tubuh
manusia. Contohnya : “pengeng” pusing, kenyot-kenyot, pening. Dan lain-lain
sebaginya.
(Yennie 2002:12) Mengatakan medan makna dalam bahasa
gorontalo ialah unsure setiap kosakata dalam setiap bahasa yang berhubungan
dengan makna satu dengan yang lain melalui jalinan makna atau hubungan makan.
(Pateda 1995). Jika diperhatikan kata-kata dalam BG modelo (akan) membawa
modede?o membawa denagan jalan menarik. Mmohodudu membawa dengan cara
menjunjung, dan lain sebagainya.
Masnoer (2001:254) mengatakan medan
makna ialah benda, kegiatan, peristiwa, proses semuannya di beri label yang
disebut lambang. Setiap lambang dibebani
unsure yang disebut makna. Kadang-kadang meskipun makna lambang itu
berbeda-beda, tetapi makna lambang tersebut memperlihatkan hubungan-hubungan
makna. Ambilah kata-kata membawa, memikul, menggendong menjinjing, dan
menjunjung. Pertalian maknannya, yakni seseorang yang menggunakan tangan,
kepala atau bahunya, memindahkan sesuatu dari tempat yang satu ketempat yang lainnya.
Dengan kata lain, ada aktifitas, aktifitas itu di laksanakakan oleh manusia.
Ada waktu pelaksanaan di gunakan berupa anggota badan berupa tangan dan bahu.
2.1.2
Komponen Makna
Komponen makana atau semantik (
semantic feature, semantic property, atau semantic marker) meningkatkan bahwa
setiap kata atau unsure leksikal terdiri dari satu beberapa unsure yang
sama-sama membentuk makna kata atau makna unsure leksikal tersebut misalnya,
ayah mengandung komponen makna unsur makna insan+dewasa+jantan, dan +kawin maka
kalu dibandingkan makna yah dan ibu menjadi sebagai berikut:
|
Komponen
makna
|
Ayah
|
Ibu
|
|
1. Instan
2. Dewas
3. Jantan
4. kawin
|
+
+
+
+
|
+
+
_
+
|
Keterangan
: tanda + berarti mempunyai makna tersebut, dan tanda_ berarti tidak mempunyai komponen makna tersebut.
6.3 Kesesuan Semantis dan Gramatis
Seorang bahasawan atau penutur suatu
bahasa dapat memahami dan menggunakan bahasanya bukanlah karena dia menguasai
semua yang ada dalam kalimat bahasa itu melainkan karena adanya unsure kesesuan
atau kecocokan cirri-ciri semantic antara unsure leksikal yang lain. Umpanay
dalam kata wanita dan mengandung ada kesesuaian cirri semantic. Tetapi antara
kata jejaka dan mengandung tidak ada kesesuaian cirri itu. Mengapa demikian ?
karena pada wanita da cirri (+mengandung ) sedangkan pada jejaka ada ciri
(-mengandung)
|
Cirri
|
Wanita
|
Jejaka
|
|
Insan
mengandung
|
+
+
|
+
_
|
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer,
Abdul.2002. Pengatar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Tarigan,
Henry Guntur.2009. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa. Edisi
Parera.
Jd. 1994. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga
Aminuddin.1988.
Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Madu
Pateda,
Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta
Yennie.Pulubuhu.2002.
Medan Makna Rasa Dalam Bahasa Gorontalo. Jakarta: Pusat Bahasa
Yennie.Pulubuhu.2002.
Medan Makna Rasa Dalam Bahasa Bali. Jakarta: Pusat Bahasa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar