Jumat, 26 April 2013





KATA PENGANTAR

           
Denman puji syukur kita ucapkan kepada ALLAH SWT, karena berkat nikmat dan hidayah-Nya, penulis bisa menyelesaikan tugas kelompok yang pembahasannya secara individu. tugas tentang medan makna dan komponen makna yang  dapat di selesaikan tepat pada waktunya.
Sholawat dan salam di curahkan kepada Nabi Muhamad SAW beserta kerabat dan keluarganya yang setia mengorbankan jiwa raga dan lainya untuk tegaknya syari’ah islam, yang berpangaruh dan bermanfaat hingga saat ini.
Selanjutnya kami ucapkan terima kasih kepada Dosen  pembimbing. Ibu ROZIAH, M.A Yang telah memberikan bimbingan, petunjuk, motivasi, dan berbagai kemudahan lainya. Semoga tugas ini bermanfaat dan menambah pengetahuan penulis..
Telah di sadari bahwa dalam penulisan ini banyak memiliki kekurangan atau kesalahan, baik dari segi isi, bahasa, dan lain sebagainya. Untuk itu saran dan kritikan yang sifatnya membangun diri pembaca maupun dosen pembimbing dengan senang hati penulis ucapkan terima kasih.



Pekanbaru, April 2013
Penulis,

                                                                            EKA ERNITA



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi manusia yang tidak terlepas dari arti atau makna pada setiap perkataan yang diucapkan. Semantik merupakan salah satu cabang ilmu yang dipelajari dalam studi linguistik. Dalam semantik kita mengenal yang disebut klasifikasi makna, relasi makna, erubahan makna, analisis makna, dan makna pemakaian bahasa. Semantik adalah subdisiplin linguistik yang membicarakan makna yaitu medan makna dan komponen makna
Chaer (2002:2) “Kata semantik ini kemudian disepakati sebagai istilah yang di gunakan untuk untuk bidang linguistic dengan hal-hal yang di tandinya. Atau dengan kata lain, bidang studi dalam linguistic yang mempelajari makkna atau arti dalam bahasa. Oleh karna itu, kata semantic dapat di artikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu salah satu dari tiga tataran analisa bahasa : fonologi, gramatik, dan semantic..
Sejalan dengan itu Tarigan (2009:7) “Semantik adalah telaah makna” Semantik menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna. Hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat, karena itu semantic. mencakup makna-makna kata. Perkembangan dan perubahannya.
Parera (1994:14) “ Semantik adalah suatu studi dan analisis tentang makna-makna linguistik” Menurut Tarigan (2009:2) “Semantik adalah telaah mengenai makna” Semantik menelaah hubungan-hubungan, tanda-tanda dengan objek-objek yang merupakan wadah penerapan tanda-tanda tersebut,,
Aminuddin (1988) “ Semantik mengandung pengertian studi tentang makna” dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka semantic merupakan makna dari bagian linguisti.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA
2.1.1 Pengertian Medan Makna
Harimurti (1982) menyatakan bahwa medan makna ( semantic field, semantic domain adalah bagian dari system semantic bahasa yang menggambarkan bagian dari kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang di realisasikan oleh para seperangkat unsureleksikal yang maknannya berhubungan. Umpamanya, nama-nama warna membentuk medan makna tertentu. Begitu perabot rumah tangga, istilah pelayaran, istilah olahraga, istilah perkerabatan, istilah alat pertukangan dan sebagainya.
Kata atau unsur leksikal yang maknanya berhubungan dalam satu bidang tertentu jumlahnya tidak sama dari satu bahasa dengan bahasa lain sebab berkaitan erat dengan kemajuan atau situasi budaya yang bersangkutan. Nama – anam dalam bahasa Indonesia adalah coklat merah, biru , hijau kunimg, dan abu, abu dalam hal ini menurut fisika adalah bukan sama atau lebih tepat putih adalah segala macam kumpulan warna, sedangkan hitam adalah tidak sama sekali.
Kata-kata yang ada dalam medan makna di golongkan menjadi dua yaitu yang termasuk golongan kolokasi dan golongan set.
Kolokasi berasal dari bahasa latin colloco yang berarti ada di tempat yang sama dengan menunjuk kepada hubungan sintagmatik yang terjadi antara kata-kata dan unsure-unsur leksikal itu. Misalnya pada kalimat tiang layar perahu nelayan itu patah dihantam badai, lalu perahu itu digulung ombat dan tenggelam bersama isinya. Kita dapati kata-kata layar perahu nelayan, badai, ombak dan tenggelam yang merupakan dalam satu kolokasi. Satu tempat atau lingkungan. Jadi jadi kata-kata yang berkolokasi ditemukan bersama atau berada dalam satu tempat atau lingkungan. Kata-kata layar, perahu, badai ombak, tenggelam diatas berada dalam lingkungan dan berbicara mengenai laut.
Dalam pembicaraan tentang jenis makna ada dua ada juga istilah kolokasi, yakni jenis kolokasi yaitu makna kolokasi, yang di maksud disini yakni makna berkenaan dengan keterkaitan kata tersebut dengan kata kolokasi yang merupakan kolokasinya. Sejalan dengan itu (Yenni 2002:12) mengatakan Medan makna rasa dalam bahasa bali merupakan lokasi atau daerah arti atau maksud rasa yang dialami oleh tubuh manuasia. (KBBI,1990). Selain itu, dapat pula di katakan bahwa medan makna rasa ialah seperangkat unsure leksikal yang menyatakan makna rasa. Konsep rasa adalah tanggapan indra berbagai rangsangan saraf, tanggapan hati, atau hal-hal lain yang di alami badan atau tubuh manusia. Contohnya : “pengeng” pusing, kenyot-kenyot, pening. Dan lain-lain sebaginya.
            (Yennie 2002:12) Mengatakan medan makna dalam bahasa gorontalo ialah unsure setiap kosakata dalam setiap bahasa yang berhubungan dengan makna satu dengan yang lain melalui jalinan makna atau hubungan makan. (Pateda 1995). Jika diperhatikan kata-kata dalam BG modelo (akan) membawa modede?o membawa denagan jalan menarik. Mmohodudu membawa dengan cara menjunjung, dan lain sebagainya.
            Masnoer (2001:254) mengatakan medan makna ialah benda, kegiatan, peristiwa, proses semuannya di beri label yang disebut lambang. Setiap lambang dibebani unsure yang disebut makna. Kadang-kadang meskipun makna lambang itu berbeda-beda, tetapi makna lambang tersebut memperlihatkan hubungan-hubungan makna. Ambilah kata-kata membawa, memikul, menggendong menjinjing, dan menjunjung. Pertalian maknannya, yakni seseorang yang menggunakan tangan, kepala atau bahunya, memindahkan sesuatu dari tempat yang satu ketempat yang lainnya. Dengan kata lain, ada aktifitas, aktifitas itu di laksanakakan oleh manusia. Ada waktu pelaksanaan di gunakan berupa anggota badan berupa tangan dan bahu.
2.1.2 Komponen Makna           
           Komponen makana atau semantik ( semantic feature, semantic property, atau semantic marker) meningkatkan bahwa setiap kata atau unsure leksikal terdiri dari satu beberapa unsure yang sama-sama membentuk makna kata atau makna unsure leksikal tersebut misalnya, ayah mengandung komponen makna unsur makna insan+dewasa+jantan, dan +kawin maka kalu dibandingkan makna yah dan ibu menjadi sebagai berikut:
Komponen makna
Ayah
          Ibu
1.   Instan
2.   Dewas
3.   Jantan
4.   kawin
+
+
+
+
+
+
_
+

Keterangan : tanda + berarti mempunyai makna tersebut, dan tanda_ berarti tidak mempunyai     komponen makna tersebut.
6.3 Kesesuan Semantis dan Gramatis
          Seorang bahasawan atau penutur suatu bahasa dapat memahami dan menggunakan bahasanya bukanlah karena dia menguasai semua yang ada dalam kalimat bahasa itu melainkan karena adanya unsure kesesuan atau kecocokan cirri-ciri semantic antara unsure leksikal yang lain. Umpanay dalam kata wanita dan mengandung ada kesesuaian cirri semantic. Tetapi antara kata jejaka dan mengandung tidak ada kesesuaian cirri itu. Mengapa demikian ? karena pada wanita da cirri (+mengandung ) sedangkan pada jejaka ada ciri (-mengandung)
Cirri
Wanita
Jejaka
Insan
mengandung
+
+
+
_

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul.2002. Pengatar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Tarigan, Henry Guntur.2009. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa. Edisi
Parera. Jd. 1994. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga
Aminuddin.1988. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Madu
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta
Yennie.Pulubuhu.2002. Medan Makna Rasa Dalam Bahasa Gorontalo. Jakarta: Pusat Bahasa
Yennie.Pulubuhu.2002. Medan Makna Rasa Dalam Bahasa Bali. Jakarta: Pusat Bahasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar